Sassi di Matera: Dari Kota Paling Memalukan di Italia Menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Sassi
Ilustrasi Sassi di Matera. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Pernah dicap sebagai kota paling memalukan di Italia, Sassi di Matera kini menjelma menjadi salah satu permata arsitektur dan sejarah yang paling berharga di dunia.

Wilayah yang terletak di Basilicata, Italia selatan ini merupakan kompleks rumah, gereja, biara, dan pertapaan yang dibangun di dalam gua—sebuah pemandangan unik yang telah bertahan sejak era prasejarah.

Perjalanan Sassi dari kawasan kumuh yang penuh penyakit hingga menjadi situs warisan dunia UNESCO adalah kisah dramatis tentang kemiskinan ekstrem, perjuangan, dan kebangkitan kembali sebuah kota.

Menurut laporan The Guardian (2017), pada akhir 1940-an sekitar 15.000 penduduk, sebagian besar petani, masih hidup di dalam gua-gua batu kapur di Matera.

Gua-gua itu lembap, gelap tanpa ventilasi, tanpa air bersih, dan tanpa listrik. Ruang untuk tidur nyaris tidak ada sehingga keluarga hidup berdempetan.

Lebih buruk lagi, penduduk tinggal bersama hewan peliharaan karena takut dicuri.

Kondisi sanitasi yang buruk menyebabkan penyakit seperti malaria, kolera, dan tifus merajalela.

Angka kematian anak sangat tinggi dan banyak yang bertahan hidup dalam kondisi buta huruf.

Kondisi mengenaskan ini baru mendapat sorotan global ketika penulis Carlo Levi, yang diasingkan oleh rezim fasis Mussolini pada 1935, menulis buku Christ Stopped at Eboli (1945).

Ia menggambarkan kehidupan penduduk Matera dengan detail menyedihkan: rumah seadanya, anak-anak telanjang atau berpakaian compang-camping, dan tubuh-tubuh rusak akibat penyakit.

Menurut laporan BBC (2023), kata sasso dalam bahasa Italia berarti “batu”, tetapi di Matera istilah itu merujuk pada distrik berisi bangunan dan gua buatan.

BACA JUGA :  Wabup Jaro Ade Apresiasi Bogor Hujan Trail Dorong Sport Tourism dan Penguatan UMKM

Gua-gua ini awalnya tidak dimaksudkan sebagai hunian, melainkan tempat penyimpanan makanan, minyak zaitun, anggur, dan keju.

Kemunduran Matera bermula ketika ibu kota Basilicata dipindahkan ke Potenza pada 1806.

Revolusi Industri membuat gua-gua penyimpanan menjadi tidak berguna. Setelah penyatuan Italia pada 1861, lahan-lahan Gereja yang disita memaksa para petani pindah ke distrik Sassi.

Akibatnya, gua-gua yang sebelumnya tidak digunakan menjadi hunian seadanya. Pemilik rumah menyewakan gua-gua itu kepada keluarga yang kehilangan tempat tinggal, membuat Sassi menjadi overpopulasi.

Untuk mendapatkan ruang lebih banyak, warga bahkan menggali lebih dalam hingga merusak struktur tangki penyaring air.

Kondisi lingkungan semakin buruk dan tingkat kematian bayi, seperti di banyak daerah Italia selatan, menjadi sangat tinggi.

Pada 1950, Perdana Menteri Italia Alcide de Gasperi melakukan kunjungan ke Matera dan terkejut melihat kondisinya. Ia menyebut Matera sebagai “a national disgrace” atau aib nasional.

Dengan bantuan dana Marshall Plan pascaperang, pemerintah mulai mengevakuasi penduduk Sassi ke rumah baru di pinggiran kota.

Namun, banyak yang tidak betah karena kehilangan hewan peliharaan, gaya hidup komunal, dan rasa kebersamaan yang selama ini menjadi bagian dari hidup mereka.

Sassi pun terbengkalai dan berada di ambang kehancuran.

Kompetisi ide diadakan untuk menentukan masa depan kawasan itu. Banyak mantan penduduk menginginkan pembongkaran total. Namun, generasi muda melihat potensi estetika dan sejarahnya.

BACA JUGA :  Mengapa Kepala Bisa Tiba-Tiba Sakit Saat Makan Es Krim? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Pada 1986, undang-undang baru disahkan untuk merestorasi kawasan tersebut dan memindahkan sebagian penduduk kembali.

Meski sebagian besar menolak karena minimnya layanan dasar, perlahan Sassi mulai bangkit.

Pemerintah kemudian menyubsidi restorasi, memancing masuknya para pengrajin, seniman, restoran, hingga hotel butik.

Pada 1993, UNESCO secara resmi menetapkan Sassi di Matera sebagai situs warisan dunia. UNESCO menyebutnya sebagai:

“Contoh paling menonjol dan utuh dari permukiman troglodyte di wilayah Mediterania yang beradaptasi sempurna dengan medan dan ekosistemnya.”

Dengan luas 1.016 hektare, Matera menjadi bukti hunian manusia berkelanjutan sejak zaman Paleolitikum hingga sekarang.

Rumah-rumah di Sassi terbentuk dari gua-gua sederhana dengan dinding blok batu yang mengelilingi dua distrik utamanya:

•Sasso Caveoso, dan

•Sasso Barisano.

Pariwisata di Matera kemudian melonjak pesat—terutama setelah kota ini dinobatkan sebagai Ibu Kota Kebudayaan Eropa 2019.

Hotel-hotel bergaya gua, restoran elegan, dan galeri seni kini menjamur di setiap sudut distrik bersejarah itu.

Kisah Matera adalah metamorfosis luar biasa dari kemiskinan ekstrem menjadi kebanggaan budaya dunia.

Dari kota yang pernah dianggap aib nasional, kini Matera menjadi destinasi wisata internasional yang melestarikan sejarah ribuan tahun, arsitektur unik, dan identitas masyarakatnya.

Sassi di Matera membuktikan bahwa sejarah kelam sekalipun dapat berubah menjadi warisan berharga ketika dipelihara dan dihargai oleh generasi baru.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================