
Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)
UPAYA Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) untuk menghadirkan nilai-nilai Pancawaluya (Cageur, Bager, Bener, Pinter, dan Singer) ke seluruh ekosistem pendidikan merupakan langkah penting dalam membangun identitas moral generasi muda.
Nilai-nilai tersebut tidak hadir sebagai jargon budaya, tetapi sebagai pedoman karakter yang menegaskan pentingnya hidup sehat, baik hati, jujur, cerdas, dan terampil.
Dalam kerangka sosiologi pendidikan, hal ini merupakan bentuk cultural reinforcement untuk mengembalikan pendidikan sebagai ruang pewarisan nilai luhur masyarakat Sunda.
Pelaksanaan in house training yang melibatkan guru, kepala sekolah, pengawas, tenaga kependidikan, hingga komite sekolah memperlihatkan bahwa KDM memahami karakter sebagai hasil kerja kolektif.
Karakter tidak dapat dibentuk oleh satu institusi saja tetapi merupakan hasil interaksi berlapis antara keluarga, sekolah, lingkungan sosial, dan kebijakan publik.
Dengan merangkul seluruh ekosistem pendidikan, Jawa Barat memperkuat fungsi sosialisasi primer dan sekunder secara bersamaan, sehingga internalisasi nilai dapat terjadi secara konsisten.
Pendekatan ini mampu mematahkan paradigma lama bahwa pendidikan karakter identik dengan sekolah semata. Dalam perspektif sosiologi kritis, langkah KDM membuka ruang partisipasi lebih luas dalam pembentukan moralitas publik.
Nilai Pancawaluya diposisikan sebagai modal sosial (social capital) yang harus dihidupi dalam tindakan sehari-hari, bukan hanya dipelajari secara teoritis. Hal ini merupakan bentuk collective agency yang relevan dalam menghadapi tantangan karakter generasi saat ini.
Ketika Ruang Sosialisasi Berpindah ke Digital
Meski demikian, terdapat tantangan baru yang tidak dapat diabaikan yakni ruang interaksi sosial anak, khususnya Gen Alpha, telah bergeser dari dunia nyata ke ruang digital. Anak-anak kini lebih banyak menghabiskan waktu di layar gawai dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sosialnya.
Media sosial, game daring, dan platform berbasis algoritma menjadi arena utama pembentukan identitas, nilai, dan perilaku mereka. Fenomena ini membuat internalisasi nilai Pancawaluya rentan terputus jika hanya dilakukan di ruang nyata
Dalam perspektif sosiologi media, ruang digital bukan sekedar tempat hiburan, tetapi ruang sosialisasi baru yang membentuk habitus generasi.
Selain itu identitas anak tidak lagi dibangun melalui interaksi langsung saja, tetapi melalui konten, tren, dan kultur digital yang terus berkembang. Aspek Cageur, Bager, Bener, Pinter, dan Singer harus hadir dalam ruang ini agar relevan dengan dunia yang sedang ditempati anak. Jika tidak, nilai lokal akan kalah oleh nilai global yang disebarkan oleh platform digital secara masif.
Sehingga kehadiran Pancawaluya di ruang digital menjadi kebutuhan mendesak.
Nilai moral tidak bisa lagi hanya diajarkan namun harus dialami dalam bentuk yang sesuai dengan medium komunikasi generasi saat ini.
Konten kreatif, micro-learning, video pendek, game edukatif, hingga narasi digital tentang praktik Pancawaluya dapat menjadi cara baru untuk membangun resonansi nilai. Anak-anak akan lebih mudah menyerap nilai melalui pengalaman yang akrab dengan dunia mereka.
Saatnya Kolaborasi Membangun Ekosistem Pendidikan Digital
Dengan demikian untuk memastikan transformasi nilai Pancawaluya berjalan efektif, ekosistem pendidikan Jawa Barat perlu membangun strategi digital yang terintegrasi. Dalam hal ini sekolah, pemerintah daerah, orang tua, komunitas kreatif, dan pelaku edutech harus berkolaborasi menciptakan ekologi nilai di dunia maya.
Tanpa pendekatan kolektif, nilai Pancawaluya berisiko hanya menjadi slogan budaya tanpa dampak nyata terhadap perilaku generasi muda. Transformasi nilai membutuhkan medium komunikasi yang dekat dengan keseharian Gen Alpha.
Disisi lain kolaborasi ini dapat terwujud melalui produksi konten digital yang sistematis, mulai dari cerita pendek visual tentang Pancawaluya, kampanye kreatif di TikTok, hingga platform pembelajaran berbasis game yang menginternalisasikan nilai secara natural.
Dengan pendekatan edutainment, nilai-nilai dapat dikemas secara menarik tanpa kehilangan substansi. Disinilah ekosistem pendidikan dapat memperkuat literasi digital dan literasi moral secara bersamaan.
Jika Jawa Barat mampu mengintegrasikan Pancawaluya ke dalam ruang digital, maka provinsi ini berpeluang menjadi pelopor pendidikan karakter berbasis budaya lokal yang adaptif terhadap teknologi.
Gen Alpha tidak hanya akan mengenal nilai Pancawaluya sebagai warisan budaya, tetapi juga menghidupinya dalam interaksi digital sehari-hari. Pada akhirnya, transformasi ini bukan hanya tentang menjaga nilai, tetapi memastikan Pancawaluya tetap hidup dan relevan dalam lanskap sosial yang terus berubah.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















