
Candaan yang membawa nama suci Allah menjadi sesuatu yang ditertawakan adalah tindakan yang tidak pantas bagi seorang muslim.
- Tidak Berbohong demi Membuat Orang Tertawa
Rasulullah SAW memperingatkan keras terkait bercanda dengan cara berdusta. Dalam riwayat Abu Dawud, beliau bersabda:
“Celakalah orang yang berkata dusta untuk membuat orang lain tertawa.”
Hal ini menunjukkan bahwa niat menghibur tetap tidak menghalalkan kebohongan.
- Tidak Terbahak-Bahak dan Mengumbar Suara
Tertawa berlebihan dapat mengurangi wibawa, mengusir ketenangan, dan mengarah pada kelalaian. Karenanya Rasulullah SAW lebih sering menampilkan senyum ketimbang tawa keras.
- Tidak Banyak Tertawa
Terlalu sering tertawa hingga melupakan keseriusan hidup dapat melemahkan kepekaan hati. Hati yang lalai semakin sulit menerima nasihat dan hidayah.
Rasulullah SAW: Sosok yang Ceria Tanpa Melampaui Batas
Rasulullah SAW adalah pribadi yang mampu menyeimbangkan keseriusan dakwah dengan senyuman yang menenangkan. Beliau bercanda untuk membahagiakan para sahabat, namun candaan beliau selalu mengandung kebaikan dan tidak menggores kehormatan siapa pun.
Senyuman beliau menjadi simbol kelembutan, keakraban, dan ketulusan. Bahkan puncak kegembiraan beliau tetap tampak dalam bentuk tawa yang santun, bukan suara keras yang meluap.
Rasulullah SAW pernah bergurau kepada sahabat Zahir bin Haram dengan mengatakan, “Siapa yang mau membeli budak ini?” yang membuat Zahir tertawa, namun Rasulullah SAW mengakhirinya dengan kalimat penuh penghargaan:
“Engkau di sisi Allah sangat berharga.”
Inilah canda yang bukan sekadar lucu, tetapi menguatkan hati.
Tawa yang Proporsional Menjaga Hati Tetap Hidup
Islam bukan agama yang membatasi kegembiraan, tetapi agama yang menjaga keseimbangan.
Tertawa itu mubah, tetapi mengontrolnya adalah bukti kedewasaan beriman. Ketika seorang muslim tertawa dalam batas wajar, ia tetap dapat merasakan kebahagiaan tanpa kehilangan kepekaan hati.
Dengan meneladani cara Rasulullah SAW tersenyum dan bercanda, umat muslim dapat menjadikan tawa sebagai sarana mempererat persaudaraan, menghidupkan suasana, dan tetap menjaga ketenangan jiwa serta kedekatan dengan Allah.
Kegembiraan boleh diekspresikan, tetapi hendaknya tetap proporsional, beradab, dan menghadirkan kebaikan. Sebab tawa yang terjaga bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menghidupkan hati dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















