‘Slip Of the Tongue’ Saat Lidah Lebih Jujur dari Otak

Kata yang memiliki bunyi tidak bersuara dan relatif panjang kemudian bertemu dengan kata yang bersuara dan relatif pendek akan mengakibatkan tumpang tindih dalam memproduksi tuturan.

Contoh konkret yaitu pada pelafalan pet dan bet dalam bahasa Inggris. Bunyi /p/ dihasilkan dari produksi VOT yang relatif panjang, sedangkan /b/ memiliki VOT yang pendek. Bunyi /p/ yang dihasilkan berbeda dari produksi benar bunyi yang sama yaitu pet dan bet. Bunyi /p/ pada kesalahan pengucapan tersebut VOTnya lebih pendek, sehingga huruf yang terucap adalah /b/. Pola kebalikan ini yang menjadi titik munculnya slip of the tongue.

Dalam proses berbicara, kesalahan ucapan sebenarnya bisa muncul dari dua sumber. Pertama, dari tahap perencanaan, yaitu saat otak sedang menyiapkan “rancangan” kata yang ingin kita ucapkan. Kedua, dari tahap artikulatoris, yaitu proses yang mengatur gerakan bibir, lidah, dan seluruh otot bicara agar terencana tadi bisa diwujudkan menjadi suara.

Secara psikolinguistik, peneliti percaya bahwa sebelum kata muncul dari mulut kita, otak kita bekerja dalam 2 tahap yaitu perencanaan ujaran, fase ketika otak kita menentukan bunyi apa yang akan diucapkan.

BACA JUGA :  LPDP Buka Beasiswa Co-Funding 2026, Kesempatan Kuliah S2 di China, AS, hingga Indonesia

Pada tahap ini, otak seperti menyusun “blueprint” dari kata yang ingin kita keluarkan. Misalnya saat mengucapkan bunyi pet, otak sudah mengatur dan menetapkan bahwa bunyi awalnya yaitu /p/. Tetapi pada tahap ini, otak belum mengatur secara detail kapan bibir harus menutup atau seberapa kuat udara harus dilepaskan. Detail – detail teknis itu baru diurus pada tahap berikutnya.

Tahap kedua yaitu artikulatoris. Bagian ini ketika rencana tadi diterjemahkan menjadi getaran nyata yaitu bibir bergerak, lidah mengatur posisi, sangat cepat dan terkoordinasi. Karen itu, sedikit saja gangguan bisa membuat mulut memproduksi bunyi yang meleset dari target. Slip of the tongue bisa terjadi pada kedua tahap ini.

Pada tahap perencanaan, otak bimbang antara dua bunyi yang mirip yaitu /b/ dan /p/. Akibatnya meski bunyi /p/ yang dipilih, sedikit jejak dari /b/ bisa ikut terbawa. Fenomena ini menunjukkan bahwa otak tidak selalu memiliki satu bunyi secara mutlak, sisa-sisa aktivasi dari bunyi lain bisa tetap mempengaruhi hasil akhirnya.

Proses artikulatoris bisa menjadi sumber kesalahan. Tongue twister menjadi contoh yang paling sederhana. Ketika kita diminta megucapakn bunyi-bunyi yang berubah secara tepat dan bergantian, koordinasi gerak bibir, lidah, dan pita suara menjadi lebih sulit dijaga. Ketika gerakannya mulai kehilangan stabilitas, mulut kita terdorong untuk “menyamakan” pola, sehingga muncul bunyi yang seperti campuran kedua target tersebut.

BACA JUGA :  Komisi III DPRD Kota Bogor Bongkar Pelanggaran Hotel Prima: Izin Hanya untuk Pusat Pelatihan

Slip of the tongue bukan sekedar momen lucu atau memalukan pada saat kita sedang buru-buru berbicara. Di balik kata-kata yang terselip itu, ada proses mental yang bekerja sangat cepat, kadang terlalu cepat hingga lidah kita tidak sanggup mengejarnya. Baik karena otak masih merencanakan ujaran berikutnya, atau karena gerak artikulator yang tidak sepenuhnya sinkron, setiap kesalahan bicara memberi gambaran kecil tentang betapa rumitnya sistem bahasa dalam diri kita.

Fenomena ini mengajarkan kepada kita bahwa lidah keseleo bukan hanya kejadian sekian detik saja akan tetapi cerita kompleks mengenai otak, perhatian, dan dinamika bahasa yang bekerja bersama. Terkadang, tanpa disadari, lidah keseleo ini justru menunjukkan kejujuran daripada yang kita kira. (*)

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Admin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================