Oleh : Agus Jatmika (Pengamat Sosial Budaya)
PAGI itu sekolah belum sepenuhnya ramai. Beberapa guru baru saja membuka ruang kelas ketika seorang bapak datang dengan langkah tergesa namun tetap tenang. Dengan nada sopan, ia menyapa guru anaknya dan menyampaikan maksud kedatangannya.
“Maaf mengganggu, Pak. Saya boleh mengambil rapor anak saya lebih pagi? Jam sembilan saya harus sudah rapat di kantor,” ujarnya singkat, tanpa banyak basa-basi.
Permintaan itu terdengar sederhana. Tetapi di balik kesederhanaannya, tersimpan pesan yang kuat tentang cara seorang orang tua memaknai pendidikan anak.
Ia datang lebih pagi, menyisihkan waktu sebelum rapat penting, bukan untuk urusan pribadi, melainkan untuk mengambil laporan hasil belajar putra-putrinya. Anak itu sendiri diketahui harus berangkat lebih pagi hari itu, dan sang ayah memastikan tetap hadir mewakilinya.
Belakangan diketahui, bapak tersebut adalah salah satu direktur perusahaan besar di Jakarta. Jabatan dan kesibukan tidak menjadikannya absen dari urusan sekolah anak.
Ia tidak mengutus sopir, asisten, atau sekedar meminta rapor dititipkan. Ia datang sendiri, berbicara langsung dengan guru, dan menunjukkan bahwa laporan hasil belajar bukan sekedar selembar kertas administratif.
Tak sedikit keluarga, pengambilan rapor kerap dianggap rutinitas tahunan yang bisa diwakilkan. Padahal, rapor adalah jendela kecil untuk melihat proses panjang yang dijalani anak di sekolah: bagaimana ia belajar, beradaptasi, berjuang, dan bertumbuh. Kehadiran orang tua saat mengambil rapor adalah bentuk pengakuan bahwa proses itu penting, layak diperhatikan, dan patut dihargai.
Bagi anak, kehadiran orang tua di sekolah—meski hanya sebentar—memberi makna tersendiri.
Ia merasa diakui, diperhatikan, dan tidak berjalan sendirian dalam proses pendidikannya. Pesan yang tertanam bukan tentang nilai semata, melainkan tentang komitmen dan kebersamaan. Bahwa belajar bukan hanya urusan sekolah, melainkan juga keluarga.
Selain itu tak sedikit ada hal mendasar yang kerap terlupakan bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, metode, atau fasilitas, tetapi juga tentang teladan. Tentang bagaimana orang tua, dengan segala kesibukannya, tetap memberi ruang bagi pendidikan anak sebagai prioritas.
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, jejak langkah sang bapak itu meninggalkan pesan sunyi namun kuat bahwa sesibuk apa pun pekerjaan, perhatian orang tua terhadap pendidikan anak tidak seharusnya ditunda. Sebab, bagi anak, kehadiran itu adalah pelajaran pertama tentang tanggung jawab, kepedulian, dan arti sebuah komitmen
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















