
Khusus untuk dapur, Nalendra menyarankan penggunaan CCTV yang dilengkapi fitur tambahan seperti thermal detector atau pendeteksi panas. Fitur ini berfungsi untuk mendeteksi radiasi atau peningkatan suhu berlebih yang berpotensi memicu kebakaran. Jika terjadi kondisi berbahaya, sistem dapat langsung mengirimkan alarm ke aplikasi CCTV milik pemilik rumah. Meski demikian, biaya pemasangan CCTV jenis ini relatif lebih mahal dibandingkan CCTV standar.
Sementara itu, untuk ruangan lain di dalam rumah, pemilik dapat menggunakan CCTV biasa dengan lensa fisheye. Lensa ini mampu menangkap area yang lebih luas sehingga pengawasan menjadi lebih efektif.
Untuk area halaman, CCTV sebaiknya dilengkapi dengan sistem peringatan atau motion detection. Contohnya, alarm yang berbunyi ketika ada pergerakan mencurigakan, seperti seseorang memanjat pagar. Sistem ini juga bisa diatur untuk memberikan peringatan jika ada aktivitas di jam-jam tidak biasa, seperti tengah malam atau dini hari.
Jenis CCTV untuk Dalam dan Luar Rumah
Nalendra juga menjelaskan bahwa jenis CCTV untuk dalam dan luar rumah sebaiknya dibedakan. Untuk penggunaan di dalam ruangan, biasanya digunakan CCTV berbentuk dome. Kamera ini berbentuk setengah lingkaran, dengan bagian datar menempel pada dinding atau plafon, serta bagian bawah dilapisi penutup bening agar objek terlihat jelas.
Sementara itu, untuk luar ruangan digunakan CCTV jenis bullet. Kamera ini berbentuk lonjong menyerupai lensa telefoto dan dirancang lebih tahan terhadap cuaca serta kondisi lingkungan luar.
Dengan menentukan lokasi dan jenis CCTV yang tepat, sistem keamanan rumah dapat bekerja secara optimal. Penempatan kamera yang strategis tidak hanya meningkatkan rasa aman, tetapi juga membantu mencegah potensi tindak kejahatan. Semoga bermanfaat.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















