Puluhan Produsen Kendaraan Listrik China Terancam Tersingkir pada 2026

Saat ini, pemerintah China masih mempertimbangkan apakah program subsidi tukar tambah kendaraan senilai 20.000 yuan (sekitar Rp45 juta) akan diperpanjang atau tidak. Di sisi lain, pembelian kendaraan listrik yang sebelumnya bebas pajak akan mulai dikenai pajak sebesar 5 persen pada Januari mendatang, sebelum kembali ke tarif normal 10 persen pada 2028.

Deutsche Bank sebelumnya memperkirakan total pengiriman kendaraan di China akan turun sekitar 5 persen pada 2026. Sementara itu, JPMorgan memproyeksikan penjualan mobil—baik berbahan bakar bensin maupun listrik—akan terkoreksi 3 hingga 5 persen pada tahun depan.

BACA JUGA :  Wardatina Mawa Ingin Perceraian Segera Tuntas, Tegaskan Keputusan Sudah Bulat

Kondisi ini mencerminkan dampak kelebihan kapasitas produksi yang memicu perang harga selama tiga tahun terakhir. Persaingan ketat tersebut menggerus margin keuntungan dan menekan keberlanjutan bisnis produsen otomotif.

Di sisi lain, para produsen EV China juga telah menggelontorkan investasi besar untuk riset dan pengembangan guna mengejar keunggulan teknologi. Namun, tekanan terhadap arus kas membuat prospek pendapatan semakin tidak menentu.

BACA JUGA :  Terbungkus Handuk Cokelat, Bayi Perempuan Ditemukan Terlantar di Semak-semak

Saat ini, hanya segelintir perusahaan yang mampu bertahan dan mencetak keuntungan, di antaranya BYD—produsen mobil listrik terbesar di dunia—serta Seres yang didukung oleh Huawei Technologies.

“Masa kejayaan penggalangan dana di sektor kendaraan listrik China telah berlalu,” ujar Yin Ran, seorang investor berbasis di Shanghai.

“Ini akan menjadi pertarungan bertahan hidup. Produsen yang mampu menghasilkan keuntungan akan bertahan, sementara yang merugi akan tersingkir dari pasar,” pungkasnya.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================