Munculnya “Super Flu” Picu Kekhawatiran, Pakar Tegaskan Belum Mengarah ke Pandemi

BOGORTODAY.COM – Kemunculan puluhan kasus Influenza A subclade K atau yang populer disebut “super flu” memicu kekhawatiran di masyarakat. Banyak pihak mempertanyakan apakah virus ini berpotensi berkembang menjadi pandemi seperti Covid-19 beberapa tahun lalu.

Menanggapi hal tersebut, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menegaskan bahwa kondisi saat ini belum mengarah ke pandemi global.

“Kalau melihat perkembangan sekarang, maka super flu ini hanya akan mengakibatkan gelombang penyakit flu yang lebih hebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jadi tidak mengarah ke pandemi,” ujar Tjandra dalam keterangannya, Kamis (1/1/2026).

Menurutnya, terdapat sejumlah indikator penting yang menentukan apakah suatu penyakit dapat berkembang menjadi pandemi. Pertama, adanya mutasi besar yang membuat virus benar-benar baru dan berbeda dari varian sebelumnya. Kedua, peningkatan tajam penularan disertai tingkat keparahan penyakit yang signifikan. Ketiga, penyebaran luas lintas negara tanpa dapat dibendung.

BACA JUGA :  KaBogorFest 2026 Resmi Dibuka, Bupati Bogor Ajak Masyarakat Meriahkan HJB ke-544

“Jika ketiga faktor tersebut tidak terjadi secara bersamaan, maka kemungkinan menjadi pandemi sangat kecil,” jelasnya.

Influenza A subtipe H3N2 sendiri bukan virus baru. Lonjakan kasus serupa sebelumnya juga pernah terjadi di berbagai negara seperti Jepang, Amerika Serikat, Kanada, Malaysia, dan Thailand. Namun yang menjadi perhatian saat ini adalah subclade K, yang diketahui telah mengalami sekitar tujuh kali mutasi.

Sejak November 2025, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa subclade K menyebar cukup cepat dan menjadi varian dominan di sejumlah wilayah belahan bumi utara. Meski demikian, karakter klinisnya masih tergolong mirip dengan flu musiman pada umumnya.

Hingga Desember 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 62 kasus influenza A subclade K di Indonesia. Mayoritas kasus ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan. Dari jumlah tersebut, sekitar 64 persen pasien adalah perempuan, sementara 35 persen lainnya merupakan anak-anak.

BACA JUGA :  Penjaga Warung Madura di Gunung Putri Diduga Ditodong Senpi

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa hingga kini tidak ditemukan peningkatan keparahan penyakit akibat virus tersebut.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan subtipe lainnya. Gejala yang muncul umumnya berupa demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya.

Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk waspada. Jika mengalami gejala flu, dianjurkan untuk beristirahat, memakai masker saat beraktivitas, serta segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan bila kondisi memburuk. Vaksinasi influenza juga disarankan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan penderita penyakit penyerta.

Dengan langkah pencegahan yang tepat dan kewaspadaan bersama, para ahli menilai potensi lonjakan besar akibat “super flu” masih dapat dikendalikan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================