
Antara TKA, Rapor, dan Kebijakan Lanjutan
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika hasil TKA mulai dikaitkan dengan kebijakan lanjutan, termasuk sebagai salah satu pertimbangan jalur seleksi masuk perguruan tinggi berbasis prestasi serta validasi nilai rapor.
Rapor merupakan akumulasi proses belajar siswa selama lima semester dalam konteks pembelajaran yang beragam. Sementara TKA dikerjakan dalam satu momen tertentu, dengan kondisi psikologis yang situasional. Dengan menyandingkan keduanya tanpa kehati-hatian berisiko menyederhanakan makna proses belajar.
Ruang Penyempurnaan yang Perlu Diperhatikan
Disisi lain sebagai pelaksanaan perdana, TKA sejatinya adalah proses belajar bagi negara. Ada sejumlah ruang penyempurnaan yang patut diperhatikan.
Pertama, penataan ulang ritme dan waktu pelaksanaan agar asesmen berlangsung dalam suasana akademik yang lebih kondusif.
Kedua, penyelarasan karakter soal dengan pengalaman belajar di kelas, melalui sosialisasi yang memadai dan pelibatan guru secara lebih aktif.
Ketiga, penegasan komunikasi kebijakan, sehingga posisi TKA benar-benar dipahami sebagai alat pemetaan, bukan sumber kecemasan baru.
Keempat, penempatan hasil TKA secara proporsional dalam kebijakan lanjutan, sebagai data pendukung yang melengkapi, bukan menggantikan, penilaian berbasis proses.
Kelima, penguatan tindak lanjut pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran dengan capaian rendah, agar data bermuara pada perbaikan nyata.
Sehingga bila ingin dibaca dengan jernih dan ditindaklanjuti secara bijak, hasil TKA dapat menjadi pondasi penting perbaikan mutu pendidikan nasional. Pendidikan yang sehat menuntut keberanian negara untuk tidak hanya mengukur, tetapi juga mendengar, belajar, dan menyempurnakan diri.
Editor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














