Puasa Qadha Ramadan: Hukum, Niat, Tata Cara, dan Bolehkah Digabung dengan Puasa Senin-Kamis

Puasa Qadha Ramadan
Puasa Qadha Ramadan. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Puasa qadha Ramadan adalah puasa pengganti yang wajib ditunaikan oleh umat Islam yang meninggalkan puasa Ramadan karena uzur tertentu.

Kewajiban ini harus dilaksanakan sebelum datangnya bulan Ramadan berikutnya. Perintah mengganti puasa Ramadan dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 184.

Allah SWT berfirman:

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain…”

Ayat ini menjadi dasar bahwa puasa yang ditinggalkan tidak gugur begitu saja, melainkan wajib diganti sesuai jumlah hari yang terlewat.

Selain dikerjakan di hari biasa, puasa qadha Ramadan juga dapat dilaksanakan pada hari Senin dan Kamis yang dikenal sebagai hari puasa sunnah. Lantas, bagaimana niatnya dan apakah boleh menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah? Berikut penjelasan lengkapnya.

Niat Puasa Qadha Ramadan di Hari Senin dan Kamis

Pada dasarnya, bacaan niat puasa qadha Ramadan sama, baik dilakukan di hari Senin, Kamis, maupun hari lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada hari pelaksanaan, bukan pada redaksi niat.

Namun, karena Senin dan Kamis memiliki keutamaan sebagai hari puasa sunnah, seseorang perlu menegaskan niat sejak awal. Apakah puasa tersebut diniatkan untuk mengganti puasa Ramadan atau sekadar menjalankan puasa sunnah.

Mengacu pada buku Praktis Ibadah karya Irwan dkk., berikut bacaan niat puasa qadha Ramadan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.

Artinya: “Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadan karena Allah Ta’ala.”

Niat puasa qadha Ramadan dianjurkan dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar.

BACA JUGA :  Korsleting Listrik Lumat Rumah di Desa Pasarean Bogor

Tata Cara Puasa Qadha Ramadan

Tata cara puasa qadha Ramadan pada dasarnya sama dengan puasa Ramadan, yaitu:

  1. Membaca niat puasa qadha pada malam hari atau sebelum fajar.
  2. Melaksanakan sahur sebagai sunnah puasa agar mendapatkan keberkahan.
  3. Menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
  4. Menyegerakan berbuka puasa saat waktu Maghrib tiba.

Golongan yang Wajib Mengqadha Puasa Ramadan

  1. Muhammad Habibillah dalam buku Panduan Terlengkap Ibadah Muslim Sehari-Hari menjelaskan beberapa golongan yang wajib mengganti puasa Ramadan, di antaranya:
  2. Musafir

Orang yang melakukan perjalanan jauh dengan tujuan yang dibenarkan syariat boleh tidak berpuasa, namun wajib menggantinya di hari lain.

  1. Orang Sakit

Orang sakit yang masih memiliki harapan sembuh dan tidak mampu berpuasa wajib mengqadha puasa setelah sehat.

  1. Perempuan Haid dan Nifas

Perempuan yang haid atau nifas tidak diperbolehkan berpuasa dan wajib menggantinya di hari lain. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah RA (HR Bukhari dan Muslim).

  1. Muntah dengan Sengaja
    Orang yang sengaja muntah saat berpuasa wajib mengganti puasanya, sebagaimana pendapat Abdullah bin Umar RA (HR Malik).
  2. Makan dan Minum dengan Sengaja

Seseorang yang sengaja makan atau minum saat berpuasa wajib mengqadha puasa pada hari tersebut.

  1. Ibu Hamil dan Menyusui

Ibu hamil atau menyusui yang tidak berpuasa karena khawatir terhadap kondisi dirinya atau bayinya wajib mengganti puasa sesuai jumlah hari yang ditinggalkan.

Batas Waktu Qadha Puasa Ramadan

Puasa qadha Ramadan dapat dilakukan sejak bulan Syawal hingga sebelum Ramadan berikutnya, yaitu sampai akhir bulan Sya’ban. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah RA yang menyebutkan bahwa ia sering mengqadha puasa Ramadan pada bulan Sya’ban karena kesibukannya melayani Rasulullah SAW (HR Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA :  Api Lahap Tiga Kios Pasar Tohaga Parung, Diduga Korsleting CCTV

Puasa qadha boleh dilakukan secara berturut-turut atau terpisah di hari yang berbeda. Namun, menyegerakan qadha puasa lebih dianjurkan sebagai bentuk bersegera dalam kebaikan, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Mu’minun ayat 61.

Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Qadha dan Senin-Kamis?

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menggabungkan niat puasa qadha Ramadan dengan puasa sunnah Senin-Kamis.

Sebagian ulama, seperti beberapa ulama mazhab Syafi’i dan Lembaga Fatwa Mesir, membolehkan penggabungan niat. Pendapat ini dinukil dari Imam as-Suyuthi dan Imam ar-Ramli as-Syafi’i, yang menyatakan bahwa seseorang dapat memperoleh pahala puasa wajib dan sunnah sekaligus.

Namun, ulama lain seperti Syaikh Bin Baz dan sejumlah ulama kontemporer berpendapat bahwa puasa qadha harus diniatkan secara khusus dan tidak boleh digabung. Menurut mereka, jika niat digabung, maka yang sah hanyalah puasa qadhanya, sedangkan pahala puasa sunnah tidak diperoleh.

Pendapat ini didasarkan pada kaidah fikih:
“Jika niat ibadah wajib dan sunnah digabung, maka yang berlaku adalah ibadah yang wajib.”

Puasa qadha Ramadan merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Pelaksanaannya bisa dilakukan di hari apa pun, termasuk Senin dan Kamis, selama diniatkan dengan benar.

Meski terdapat perbedaan pendapat terkait penggabungan niat, kehati-hatian dalam ibadah tetap dianjurkan dengan mendahulukan puasa wajib dan melaksanakannya secara terpisah jika mampu.

Wallahu a‘lam.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================