
BOGORTODAY.COM – Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia kini memiliki wadah baru dengan diresmikannya Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA). Asosiasi yang terbentuk pada medio Desember 2025 lalu ini berkomitmen menjadi katalisator kemajuan industri dengan fokus pada kolaborasi, integritas, dan keberlanjutan.
Ketua Umum terpilih AMDATARA, Karyanto Wibowo, menyatakan bahwa asosiasi ini lahir sebagai respons atas kebutuhan wadah resmi yang mampu menyatukan para pelaku industri. Tujuannya adalah menghadapi tantangan global sekaligus membangun masa depan pemenuhan hidrasi yang lebih sehat bagi masyarakat.
“Saya yakin AMDATARA akan menjadi penggerak kemajuan industri AMDK. Kami siap membangun kolaborasi solid, memastikan kepatuhan regulasi, dan mendorong inovasi demi menjaga kualitas produk serta kontribusi positif terhadap lingkungan,” ujar Karyanto dalam keterangan resminya, Sabtu (10/1/2026).
Ke depan, AMDATARA akan menjalankan fungsi strategis mulai dari advokasi kebijakan dengan pemerintah, edukasi publik tentang hidrasi sehat, pengelolaan sumber daya air, hingga standardisasi kualitas melalui SNI. Selain itu, asosiasi ini berkomitmen mendukung transformasi industri 4.0 dan penerapan teknologi ramah lingkungan.
Langkah AMDATARA ini disambut positif oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, berharap AMDATARA dapat mensinergikan pelaku industri dengan kebijakan pemerintah.
“Kehadiran AMDK memberikan efek ganda (multiplier effect) yang luas, mulai dari jasa transportasi hingga sektor ritel. Kami mengapresiasi pelaku usaha yang terus mengembangkan sektor ini demi pertumbuhan ekonomi nasional,” tutur Merrijantij.
Data menunjukkan industri AMDK Indonesia mengalami ekspansi signifikan dengan pertumbuhan rata-rata 5-8 persen per tahun. Dari hanya satu pabrik di tahun 1973, kini telah berkembang menjadi 707 pabrik dengan lebih dari 2.000 merek dan kapasitas produksi mencapai 47 miliar liter per tahun. Sektor ini juga menyerap 46.000 tenaga kerja langsung dengan tingkat utilisasi di atas 70 persen.
Meski tumbuh pesat, Karyanto mengakui tantangan industri AMDK semakin kompleks. Isu-isu seperti regulasi migrasi BPA pada kemasan, sinkronisasi aturan pusat dan daerah, hingga penerapan Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi fokus utama.
“Industri juga harus beradaptasi dengan tren ekonomi sirkular, digitalisasi, dan sertifikasi halal. AMDATARA akan menjadi platform bagi anggota untuk bersama-sama menjawab tantangan tersebut agar industri AMDK tetap berdaya saing dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Saat ini, AMDATARA telah didukung oleh puluhan perwakilan anggota yang tersebar dari wilayah Sumatera, Jawa, Bali, hingga Sulawesi.
Bagi HalamanEditor : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














