
Kebiasaan ini bisa diatasi dengan langkah sederhana, seperti berdiri dan meregangkan tubuh saat menonton televisi, berjalan sambil menerima panggilan telepon, atau memasang pengingat untuk berdiri setiap 30 menit.
- Kurang Tidur
Kurang tidur tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga mengganggu keseimbangan hormon dan regulasi gula darah. Studi menunjukkan bahwa orang dengan gangguan tidur lebih sering mengalami kadar gula darah tinggi dibandingkan mereka yang tidur cukup dan berkualitas.
Saat tubuh kekurangan tidur, hormon stres seperti kortisol meningkat, yang dapat memicu lonjakan gula darah. Selain itu, kurang tidur juga meningkatkan rasa lapar dan keinginan mengonsumsi makanan manis atau tinggi karbohidrat, sehingga memperbesar risiko obesitas dan diabetes tipe 2.
- Merokok
Merokok merupakan faktor risiko yang sering diabaikan dalam kaitannya dengan diabetes. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), perokok memiliki risiko 30 hingga 40 persen lebih tinggi terkena diabetes dibandingkan non-perokok.
Merokok telah berkontribusi pada jutaan kasus diabetes di seluruh dunia. Untuk berhenti merokok, dokter dapat menyarankan terapi pengganti nikotin, seperti permen karet atau permen hisap, serta obat-obatan tertentu yang membantu menghentikan kebiasaan merokok.
- Mengonsumsi Makanan Olahan
Makanan olahan seperti sereal manis, daging olahan, camilan kemasan, dan makanan cepat saji berkaitan erat dengan peningkatan risiko diabetes. Setiap peningkatan 10 persen konsumsi makanan olahan dikaitkan dengan kenaikan risiko diabetes sebesar 15 persen.
Jenis makanan ini umumnya tinggi kalori, rendah serat, dan kurang memberikan rasa kenyang. Akibatnya, seseorang cenderung makan berlebihan dan mengalami kenaikan berat badan, yang berujung pada resistensi insulin.
- Kurangnya Interaksi Sosial
Tidak hanya faktor fisik, kondisi psikososial juga berpengaruh terhadap risiko diabetes. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia menemukan bahwa orang yang merasa sangat kesepian memiliki risiko dua kali lipat terkena diabetes tipe 2.
Para peneliti menekankan bahwa kualitas hubungan sosial lebih penting daripada jumlahnya. Menjalin hubungan yang sehat dan suportif dengan orang-orang terdekat dapat membantu menurunkan risiko diabetes sekaligus meningkatkan kesehatan mental.
Kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari ternyata memiliki dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Dengan mulai memperbaiki pola hidup, menjaga aktivitas fisik, kualitas tidur, pola makan, dan hubungan sosial, risiko diabetes tipe 2 dapat ditekan sejak dini.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















