BOGORTODAY.COM – Banyak negara di dunia mulai membangun kota baru yang modern dan ramah lingkungan sebagai solusi atas kepadatan penduduk dan krisis lingkungan.
Indonesia menjadi salah satu contohnya dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, Indonesia bukan satu-satunya negara di Asia yang menempuh langkah tersebut.
Uzbekistan juga tengah menyiapkan proyek ambisius berupa pembangunan kota hijau bernama New Tashkent.
Pembangunan New Tashkent dilatarbelakangi oleh kondisi ibu kota Uzbekistan saat ini, Tashkent, yang dinilai sudah terlalu padat.
Berdasarkan data pemerintah Uzbekistan, jumlah penduduk Tashkent mencapai sekitar 3,1 juta jiwa per Juli 2025, menjadikannya salah satu kota terpadat di Asia Tengah, seperti dikutip dari Express UK, Senin (13/1/2026).
Solusi Kepadatan dan Polusi
Tak sekadar membangun kota modern, pemerintah Uzbekistan menaruh perhatian besar pada aspek keberlanjutan lingkungan. Tashkent saat ini dikepung polusi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Karena itu, New Tashkent dirancang sebagai kota hijau yang bersih dan sehat.
Kota baru ini rencananya akan dibangun di antara Sungai Karasuv dan Sungai Chirchik, lokasi yang dinilai strategis untuk menciptakan lingkungan dengan kualitas udara lebih baik dan suhu yang lebih sejuk.
Selain mengurangi polusi, pembangunan New Tashkent juga bertujuan meringankan beban ibu kota lama. Dalam berbagai laporan, disebutkan bahwa seluruh aktivitas administratif pemerintahan akan dipindahkan ke New Tashkent, sementara pusat ekonomi akan dibagi antara kota lama dan kota baru agar tidak terjadi penumpukan aktivitas.
Kota Baru untuk 2,5 Juta Penduduk
New Tashkent akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 20.000 hektare dan dirancang untuk menampung hingga 2,5 juta jiwa. Pemerintah berencana membangun ribuan rumah tapak serta ratusan rumah susun dan apartemen guna memenuhi kebutuhan hunian masyarakat.
Tak hanya kawasan permukiman, kota ini juga akan dilengkapi dengan gedung pemerintahan, perkantoran, sekolah, rumah sakit, hingga pusat perbelanjaan. Bahkan, pemerintah merancang pembangunan kompleks perkantoran modern dengan gedung kembar pencakar langit setinggi hingga 575 meter, yang digadang-gadang akan menjadi ikon baru Uzbekistan.
Ramah Transportasi Publik
Konsep kota berkelanjutan juga diwujudkan melalui sistem transportasi. New Tashkent didesain agar masyarakat dapat menjangkau berbagai fasilitas penting—seperti kantor, mal, dan rumah sakit—dalam waktu maksimal 15 menit.
Dengan konsep ini, pemerintah berharap warga lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi.
Pembangunan Bertahap hingga 2045
Proyek New Tashkent akan dibangun dalam dua fase. Fase pertama, yang dikenal sebagai Distrik 1, akan difokuskan pada pembangunan fasilitas umum dan gedung pemerintahan.
Sementara fase kedua akan mencakup pembangunan kawasan hunian dan pusat perbelanjaan, yang diperkirakan rampung pada tahun 2045.
Proyek ambisius ini diperkirakan menelan biaya sekitar US$ 30 miliar atau setara Rp 505,8 triliun (kurs Rp 16.860). Besarnya anggaran tersebut memicu protes dari sebagian warga yang mempertanyakan urgensi dan dampak proyek tersebut.
Tantangan dan Harapan
Selain soal biaya, muncul pula kekhawatiran mengenai ketersediaan air bersih. Lonjakan populasi dan pembangunan infrastruktur berskala besar dikhawatirkan dapat memicu krisis air dan tekanan lingkungan lainnya.
Uzbekistan sendiri belum sepopuler negara-negara besar Asia seperti China, Jepang, Korea Selatan, atau Singapura.
Meski demikian, pemerintah optimistis bahwa pembangunan New Tashkent dapat menjadi daya tarik baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata internasional, sekaligus menempatkan Uzbekistan sebagai salah satu negara dengan visi kota hijau masa depan di Asia Tengah.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















