Menanti Kabar Dwi Murdiono, Korban Pesawat ATR 42-500 Asal Kabupaten Bogor

Dwi Murdiono
Sinta Jayanti (kiri) menunjukkan foto suaminya, Dwi Murdiono, pegawai PT Indonesia Air Transport yang menjadi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, saat ditemui di kediamannya di Kabupaten Bogor, Senin (19/1/2026). Sinta masih berharap ada mukjizat untuk kepulangan sang suami. Foto : bogortoday.com/Rifki Ramadhan.

BOGORTODAY.COM – Pagi itu, Sabtu (18/1/2026), pukul 07.58 WIB, Sinta Jayanti masih sempat bertukar pesan singkat dengan suaminya, Dwi Murdiono. Seperti biasa, sang suami berpamitan sebelum bertugas.

“Mih, Abi nanti jam delapan kalau nggak diundur berangkat ya,” tulis Dwi. Sinta membalas dengan penuh doa, “Iya, Bismillah ya, hati-hati.”

Itulah komunikasi terakhir mereka sebelum Dwi Murdiono, pegawai bidang engineering PT Indonesia Air Transport, menjalankan tugasnya dalam penerbangan pesawat ATR 42-500 yang kemudian jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.

Dwi Murdiono adalah salah satu korban asal Kabupaten Bogor dari tragedi yang terjadi Sabtu sore itu. Kini, Sinta Jayanti masih menanti kabar kepulangan suami yang selama ini selalu memberinya tahu setiap kali mendarat dengan selamat.

BACA JUGA :  Pemancing Asal Depok Meninggal di Situ Cikaret, Diduga Serangan Jantung

Pukul 12.00 WIB, sebuah nomor asing menghubungi Sinta. Perempuan itu mengira sang suami yang tengah menelepon, kebiasaan Dwi memang sering berganti kartu SIM saat bertugas.

“Dikira nomor suami. Saya pikir, kenapa ada telepon dari kantor. Terus saya bilang, Bismillah aja, percaya,” kenang Sinta, saat ditemui wartawan di kediamannya di  Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Senin (19/1/2026).

Namun, firasat buruk mulai menghampiri. Dua jam kemudian, pukul 14.00 WIB, kantor kembali menghubungi lewat pesan WhatsApp. Kali ini, mereka meminta doa Sinta. Dwi dinyatakan hilang kontak.

BACA JUGA :  Peringati HJB ke-544, Gedung DPRD Kota Bogor Jadi Magnet Aksi Sosial Donor Darah

Sinta terbiasa menerima kabar dari suaminya setiap usai tugas.

“Biasanya kalau landing ngabarin. Kadang kalau nggak sibuk ngabarin, kalau sibuk ya paling ngabarin kalau udah sampai Jakarta lagi,” ujarnya. Kali ini, kabar itu tak kunjung datang.

Hingga kini, keluarga masih berharap ada mukjizat. Sinta dan keluarga besar terus memantau perkembangan pencarian, menanti kabar baik yang entah kapan akan tiba.

“Harapannya semoga cepat ketemu, nggak ada yang kurang selamat orangnya. Di kantor juga masih ngasih info terus,” kata Sinta, suaranya hampir putus.

Bagi Halaman

Editor : Bas

Wartawan : Rifki Ramadhan

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================