
BOGORTODAY.COM – Pagi itu, Sabtu (18/1/2026), pukul 07.58 WIB, Sinta Jayanti masih sempat bertukar pesan singkat dengan suaminya, Dwi Murdiono. Seperti biasa, sang suami berpamitan sebelum bertugas.
“Mih, Abi nanti jam delapan kalau nggak diundur berangkat ya,” tulis Dwi. Sinta membalas dengan penuh doa, “Iya, Bismillah ya, hati-hati.”
Itulah komunikasi terakhir mereka sebelum Dwi Murdiono, pegawai bidang engineering PT Indonesia Air Transport, menjalankan tugasnya dalam penerbangan pesawat ATR 42-500 yang kemudian jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Dwi Murdiono adalah salah satu korban asal Kabupaten Bogor dari tragedi yang terjadi Sabtu sore itu. Kini, Sinta Jayanti masih menanti kabar kepulangan suami yang selama ini selalu memberinya tahu setiap kali mendarat dengan selamat.
Pukul 12.00 WIB, sebuah nomor asing menghubungi Sinta. Perempuan itu mengira sang suami yang tengah menelepon, kebiasaan Dwi memang sering berganti kartu SIM saat bertugas.
“Dikira nomor suami. Saya pikir, kenapa ada telepon dari kantor. Terus saya bilang, Bismillah aja, percaya,” kenang Sinta, saat ditemui wartawan di kediamannya di Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Senin (19/1/2026).
Editor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














