
Perubahan suhu BBM dapat terjadi sepanjang proses distribusi, mulai dari hulu di kilang penyulingan hingga hilir saat BBM diterima konsumen di SPBU. Pada rantai pasok hulu, BBM umumnya dijaga pada suhu standar sekitar 15 derajat Celsius. Namun, di tingkat konsumen, belum ada sistem yang memastikan suhu BBM tetap berada pada standar tersebut.
Meski demikian, Leopold menegaskan bahwa selisih suhu BBM antara siang dan malam hari relatif kecil, sehingga dampaknya terhadap volume juga sangat minim.
Selisih Volume Sangat Kecil
Sebagai gambaran, pengisian 40 liter bensin pada siang hari, dengan suhu BBM sekitar 2–3 derajat Celsius lebih tinggi dibanding malam hari, hanya menghasilkan perbedaan volume kurang dari 0,1 liter per 40 liter.
Perhitungan ini didasarkan pada koefisien muai bensin yang berada di kisaran 0,00095–0,0011 per derajat Celsius. Untuk solar, koefisien muainya bahkan lebih kecil, yakni sekitar 0,0007–0,0009 per derajat Celsius.
Tidak Perlu Menunggu Malam Hari
Dengan perbedaan yang sangat kecil tersebut, Leopold menyimpulkan bahwa konsumen tidak perlu sengaja menunggu atau memaksakan diri mengisi BBM pada malam hari.
“Efek perubahan volume ini tidak terlalu besar dirasakan konsumen karena perubahan suhu BBM antara siang dan malam sebenarnya tidak signifikan,” ujarnya.
Dengan demikian, waktu pengisian BBM—baik siang maupun malam—tidak memberikan perbedaan berarti dalam penggunaan sehari-hari. Yang terpenting adalah memastikan kualitas BBM dan kondisi kendaraan tetap terjaga.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















