
Akses Data Kesehatan Jadi Kekhawatiran
Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengakui masih terdapat sejumlah isu yang belum tuntas, termasuk potensi hilangnya akses Amerika Serikat terhadap data kesehatan global. Selama ini, data tersebut berperan penting sebagai sistem peringatan dini untuk mendeteksi munculnya wabah atau pandemi baru.
Dalam setahun terakhir, banyak pakar kesehatan global mendesak agar keputusan penarikan diri tersebut ditinjau ulang. Seruan serupa juga disampaikan oleh Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman kesehatan lintas negara.
Pakar Khawatir Keamanan Kesehatan Global Melemah
Sepanjang 2025, para ahli kesehatan global memperingatkan bahwa keluarnya Amerika Serikat dari WHO berpotensi melemahkan sistem keamanan kesehatan global, baik bagi AS maupun komunitas internasional.
Selama ini, Amerika Serikat dikenal sebagai penyumbang dana terbesar bagi WHO. Lembaga khusus PBB tersebut memiliki mandat penting untuk mengoordinasikan kesiapsiagaan menghadapi wabah penyakit seperti mpox, Ebola, dan polio.
Selain itu, WHO juga memberikan bantuan teknis kepada negara-negara berpenghasilan rendah, membantu distribusi vaksin yang terbatas, serta menetapkan pedoman penanganan ratusan kondisi kesehatan, mulai dari kesehatan mental hingga kanker.
“Saya berharap Amerika Serikat akan mempertimbangkan kembali keputusannya dan bergabung lagi dengan WHO,” ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers awal bulan ini. “Penarikan diri dari WHO merupakan kerugian bagi Amerika Serikat dan juga kerugian bagi seluruh dunia.”
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















