
BOGORTODAY.COM – Polusi udara kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, terutama di kawasan perkotaan.
Berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan inovasi bernama Aerotrak, alat pemantau kualitas udara berukuran mungil yang dapat digunakan sebagai gantungan tas atau kunci kendaraan.
Dilansir dari laman resmi Unhas, inovasi Aerotrak sukses mengantarkan tim mahasiswa Unhas meraih juara EcoBoss Greenpreneurship Pitch Challenge 2025. Atas pencapaian tersebut, mereka berhak membawa pulang hadiah sebesar 16.000 dolar Australia atau setara Rp170 juta.
Dari Kepedulian Lingkungan hingga Juara Nasional
Tim Aerotrak beranggotakan Muhammad Al Mabrur G, Muhammad Farid Hidayat, Panji Bagus Satria, dan Erland Gavril Rande. Ide pengembangan alat ini bermula dari kepedulian mereka terhadap tingginya risiko kesehatan akibat paparan partikel halus PM2.5, yang kerap tidak disadari masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Kompetisi EcoBoss Greenpreneurship merupakan program kolaborasi antara Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT), Academy of Entrepreneurs Australia, serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia. Setelah melalui seleksi ketat di tingkat kampus hingga nasional, tim Aerotrak berhasil masuk enam besar finalis dan akhirnya keluar sebagai juara utama.
Muhammad Al Mabrur menjelaskan, polusi udara sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun memiliki dampak kesehatan yang sangat serius.
“Paparan polusi udara dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit hingga menyebabkan kematian. Karena itu, Aerotrak kami rancang agar masyarakat bisa memantau kualitas udara di sekitarnya secara real-time dan melakukan pencegahan sejak dini,” ujarnya.
Teknologi Portabel dan Ramah Lingkungan
Aerotrak dirancang sebagai perangkat portabel berukuran kecil dengan sistem mikrokontroler yang terintegrasi sensor kualitas udara. Alat ini mampu memantau kondisi udara secara langsung, sehingga pengguna dapat mengetahui tingkat paparan polusi di sekitarnya.
Desainnya yang ringkas membuat Aerotrak ideal digunakan oleh masyarakat dengan mobilitas tinggi, seperti pengemudi ojek online, pekerja lapangan, hingga pelajar. Tak hanya mengandalkan kecanggihan teknologi, Aerotrak juga mengusung prinsip keberlanjutan.
Casing perangkat ini dibuat dari sampah plastik daur ulang, menjadikan Aerotrak bukan sekadar alat pemantau polusi udara, tetapi juga kontribusi nyata dalam upaya pengurangan limbah plastik.
Apresiasi Kampus dan Langkah Lanjutan
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof drg Muhammad Ruslin, M Kes, Ph D, Sp B M (K), menyampaikan apresiasinya atas prestasi yang diraih mahasiswa Unhas.
“Keberhasilan ini menjadi bukti daya saing mahasiswa Unhas, sekaligus menunjukkan bahwa inovasi yang dihasilkan mampu menjawab tantangan kesehatan masyarakat dan sejalan dengan komitmen pelestarian lingkungan,” katanya.
Pasca kompetisi, tim Aerotrak mendapatkan pendampingan intensif dari Academy of Entrepreneurs serta dukungan dari pihak kampus untuk melanjutkan pengembangan produk melalui program studi independen Greenpreneurship.
Saat ini, tim Aerotrak masih menyempurnakan desain serta sistem produksi. Mereka berharap Aerotrak dapat segera dipasarkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman polusi udara yang kian meningkat.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















