
BOGORTODAY.COM – Gelap masih menyelimuti kawasan Bojong Gede ketika Sudrajat mulai bergerak. Pria berusia 49 tahun itu bangun lebih dulu dari matahari. Tangannya terbiasa melipat kain lap, menyiapkan dan memastikan wadah es gabus untuk perjalanan panjang menuju Jakarta.
Sudedi (70), tetangga yang rumahnya berjarak beberapa meter dari kediaman Sudrajat, hafal betul ritme hidup pria itu. Setiap pagi, ia mendengar suara langkah kaki yang sama, perlahan namun pasti menuju stasiun terdekat.
“Pagi berangkat subuh, nanti sore jam lima jam enam pulang. Udah setiap hari gitu terus,” kenang Sudedi, Rabu (27/1/2026).
Bagi Sudrajat, waktu adalah nafkah. Setiap detik yang terbuang berarti satu porsi es gabus yang tak terjual. Maka, hampir tak ada hari libur dalam kamusnya. Bahkan di akhir pekan, ketika sebagian orang beristirahat, Sudrajat tetap berangkat, kecuali hujan turun membasahi jalan.
“Minggu tetap berangkat, kadang kalau hujan tidur. Kalau musim terang kayak gini berangkat,” ujar Sudedi.
Kehidupan Sudrajat sederhana, tanpa banyak cerita. Lima anaknya adalah alasan di balik semua langkah kakinya. Di tengah kesibukan lingkungan sekitarnya, ia memilih untuk beristirahat. Bukan karena sombong, tapi karena waktunya terlalu berharga untuk hal-hal di luar mencari nafkah.
“Sama tetangga nggak pernah berantem, nggak pernah apa-apa. Pokoknya orangnya biasa aja lah sama tetangga, biasa aja. Jadi fokus ke kerja aja,” tutur Sudedi.
Bagi HalamanEditor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















