Drama Empati Pak Sudrajat di Ruang Digital

Empati
Agus Jatmika (Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Jakarta)

Oleh : Agus Jatmika (Alumni Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Jakarta)

DI era media sosial, empati publik dapat tumbuh dan meredup dalam waktu yang sangat singkat. Pak Sudrajat, seorang penjual es yang semula tak dikenal luas, mengalaminya ketika sebuah video memperlihatkan dirinya mendapat perlakuan tidak manusiawi dari oknum aparat. Dalam sekejap, simpati publik mengalir deras.

Respons publik berlangsung cepat. Netizen bersuara lantang, aparat menyampaikan permintaan maaf, dan tokoh publik ikut hadir memberikan perhatian. Pak Sudrajat pun menjelma simbol ketidakadilan yang menyentuh emosi kolektif.

Empati menjadi arus utama percakapan, dan publik merasa sedang membela pihak yang lemah. Tetapi dinamika empati di ruang digital jarang berjalan linier.

BACA JUGA :  Prabowo Ganti Pimpinan Badan Gizi Nasional, Nanik Sudaryati Deyang Ditunjuk Jadi Kepala Baru

Ketika Simpati Menjadi Arus Utama

Sementara itu media sosial bekerja dengan kecepatan dan emosi. Dalam kasus Pak Sudrajat, simpati publik menguat karena narasinya sederhana dan mudah dipahami yakni rakyat kecil berhadapan dengan kekuasaan. Skema ini dengan cepat memicu solidaritas dan kemarahan kolektif.

Sehingga pada fase ini, empati lebih banyak digerakkan oleh perasaan ketimbang pemahaman mendalam. Publik bereaksi serempak, sering kali tanpa sempat memberi ruang pada kompleksitas persoalan.

Figur “Rakyat Kecil” dan Daya Simbolik

Dalam perspektif sosiologi, sosok seperti Pak Sudrajat memiliki daya simbolik yang kuat. Hai ini karena ia dapat  merepresentasikan figur “rakyat kecil” yakni pekerja informal, sederhana, dan berada pada posisi lemah dalam struktur sosial. Karakter ini mudah membangkitkan empati, terutama dalam masyarakat yang masih akrab dengan realitas ketimpangan.

BACA JUGA :  Mata Merah Jangan Dianggap Sepele, Kenali Tanda-Tanda yang Harus Segera Diperiksa Dokter

Namun empati publik kerap berhenti pada simbol. Sehingga yang dibela adalah figur yang tampak menderita, bukan sistem yang memungkinkan ketidakadilan itu terjadi. Ketika simbol tersebut tak lagi sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi, empati pun mulai memudar.

Narasi yang Retak dan Empati yang Bergeser

Seiring waktu, ketika muncul berbagai penjelasan yang berbeda mengenai kondisi hidup Pak Sudrajat tentang tempat tinggal, sekolah anak, hingga keseharian. Narasi yang semula diterima secara utuh mulai dipertanyakan.

Editor : Gistin Illiyin

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================