
BOGORTODAY.COM – Virus Nipah tengah menjadi sorotan setelah dilaporkan mewabah di India. Meski kasusnya tergolong jarang, virus ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki tingkat fatalitas yang tinggi dan berpotensi menimbulkan wabah serius. Lantas, bagaimana sebenarnya pola penyebaran virus Nipah dan seberapa besar risikonya bagi Indonesia?
Peneliti Ahli Utama Virologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti, menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang perlu dipahami secara ilmiah. Karakteristiknya yang serius membuat virus ini berpotensi menimbulkan wabah apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Indi menyebutkan virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada wabah di Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, virus ini memicu kejadian berulang di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
“Nipah virus memiliki dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, kesehatan hewan, serta aspek sosial dan ekonomi,” kata Indi, dikutip dari laman resmi BRIN, Jumat (30/1/2026).
Reservoir Alami dan Jalur Penularan
Virus Nipah termasuk dalam genus Henipavirus dengan reservoir alami berupa kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus. Kelelawar jenis ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap mampu menularkannya ke hewan lain maupun manusia.
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui beberapa jalur, antara lain kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan yang terkontaminasi, serta penularan antarmanusia. Di sejumlah negara, wabah Nipah juga dikaitkan dengan konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi urine atau saliva kelelawar.
Situasi dan Risiko di Indonesia
Terkait kondisi di Indonesia, Indi menegaskan bahwa sejumlah penelitian telah memberikan bukti ilmiah adanya virus Nipah pada satwa liar. Studi serologis di Kalimantan Barat, misalnya, menemukan antibodi Nipah virus pada sekitar 19 persen sampel serum kelelawar Pteropus vampyrus, meski tidak ditemukan pada babi.
Selain itu, deteksi molekuler menggunakan metode PCR pada sampel saliva dan urine kelelawar di Sumatra Utara juga mengonfirmasi keberadaan genom virus Nipah. Penelitian lanjutan bahkan menemukan virus serupa pada Pteropus hypomelanus di wilayah Jawa, dengan karakter genetik yang berkerabat dekat dengan isolat dari Malaysia dan negara Asia Tenggara lainnya.
Menurut Indi, kondisi ekologis Indonesia membuat risiko penularan virus Nipah tidak bisa diabaikan. Keanekaragaman spesies kelelawar yang tinggi, kedekatan habitat satwa liar dengan permukiman manusia, serta praktik perburuan dan perdagangan satwa menjadi faktor pendorong utama.
“Interaksi yang intens antara manusia, hewan, dan lingkungan menjadi kunci munculnya penyakit zoonotik seperti Nipah,” jelasnya. Keberadaan pasar hewan dengan sanitasi yang kurang memadai serta populasi babi yang besar di beberapa wilayah turut meningkatkan potensi penularan lintas spesies.
Pencegahan Jadi Kunci Utama
Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus spesifik untuk virus Nipah. Penanganan kasus masih bergantung pada perawatan suportif, sehingga pencegahan menjadi langkah paling krusial untuk menekan risiko wabah.
BRIN mendorong penguatan surveilans aktif pada satwa liar, hewan domestik, dan manusia, serta peningkatan kapasitas diagnostik di berbagai daerah. Deteksi dini dinilai sangat penting untuk mencegah meluasnya penularan apabila virus berpindah ke manusia.
Pendekatan One Health menjadi strategi utama dalam kesiapsiagaan menghadapi virus Nipah. Pendekatan ini menekankan kolaborasi lintas sektor antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan.
“Tantangan ke depan adalah keterbatasan data epidemiologi dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko zoonosis. Edukasi publik harus diperkuat agar masyarakat memahami bahaya kontak dengan satwa liar dan konsumsi pangan yang berpotensi terkontaminasi,” ujar Indi.
Ia berharap hasil riset BRIN dapat menjadi dasar kebijakan nasional dalam pencegahan penyakit emerging dan re-emerging, sehingga Indonesia lebih siap menghadapi potensi ancaman virus Nipah secara terukur dan berkelanjutan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















