
BOGORTODAY.COM – Kasus dugaan bunuh diri anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pengingat serius bahwa tanda-tanda depresi pada anak kerap muncul sejak dini, namun sering kali luput dari perhatian orang tua maupun lingkungan terdekat.
Padahal, gejala tersebut biasanya sudah terlihat jauh sebelum kondisi mental anak memburuk.
Sayangnya, berbagai perubahan perilaku anak kerap dianggap sebagai hal wajar dalam proses tumbuh kembang, sehingga tidak segera ditangani secara serius. Kondisi inilah yang berpotensi membuat gangguan kesehatan mental pada anak semakin berkembang tanpa disadari.
Psikolog anak, Mira Amir, menjelaskan bahwa depresi pada anak memiliki spektrum gejala yang luas dan sering kali tumpang tindih dengan karakteristik perkembangan usia kanak-kanak.
“Tandanya itu banyak dan sering kali overlap dengan ciri-ciri usia anak. Jadi mungkin akan menyulitkan buat lingkungannya, terutama keluarga, untuk mendeteksi sedari awal,” ujar Mira, Kamis (5/2/2026).
Menurut Mira, ada sejumlah tanda penting yang patut diwaspadai sebagai indikasi anak sedang mengalami depresi.
- Perubahan perilaku
Perubahan perilaku menjadi salah satu tanda paling umum. Anak yang sebelumnya ceria, aktif, dan komunikatif dapat tiba-tiba menjadi pendiam, menarik diri, dan enggan berinteraksi, baik di rumah maupun di sekolah.
- Gelisah dan sensitif
Anak dengan depresi juga cenderung terlihat lebih gelisah, sensitif, dan mudah tersinggung. Mereka sering merasa tidak nyaman saat berinteraksi sosial dan mudah terganggu oleh hal-hal kecil.
Pada usia sekolah dasar, tanda ini sebenarnya bisa terdeteksi apabila orang tua dan guru cukup peka terhadap perubahan sikap anak dalam keseharian.
- Menarik diri dan tampak lesu
Selain gelisah, penurunan energi juga menjadi sinyal yang perlu diwaspadai.
“Anak yang tadinya riang bermain bisa jadi menarik diri, terlihat lesu, lunglai, tidak bersemangat, dan kurang responsif, baik dalam komunikasi maupun aktivitas belajar di kelas,” jelas Mira.
Kondisi ini kerap disalahartikan sebagai sifat malas, manja, atau kelelahan biasa. Padahal, pada sebagian kasus, hal tersebut merupakan tanda awal gangguan kesehatan mental yang memerlukan perhatian khusus.
- Gangguan pola tidur
Gangguan tidur juga sering muncul pada anak yang mengalami depresi. Anak bisa mengalami kesulitan tidur, tidur gelisah, sering terbangun di malam hari, atau justru tidur berlebihan, terutama pada fase prapubertas.
Pola tidur yang terganggu berdampak pada aktivitas anak di siang hari, seperti mudah lelah, sulit berkonsentrasi, dan menurunnya minat terhadap kegiatan yang sebelumnya disukai.
Mira menegaskan bahwa semakin cepat gejala depresi dikenali, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan pulih dengan baik.
“Segala macam gangguan itu semakin cepat diketahui keluarga, penanganannya akan semakin baik dan prognosisnya juga lebih positif,” ujarnya.
Kasus anak bunuh diri di NTT menjadi pengingat bahwa kesehatan mental anak tidak boleh dipandang sebelah mata. Perubahan kecil dalam perilaku anak seharusnya diperlakukan sebagai sinyal penting, bukan sekadar fase pertumbuhan.
Kesadaran orang tua, keluarga, dan pihak sekolah untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak menjadi langkah awal yang krusial agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















