BOGORTODAY.COM – Pendengaran merupakan salah satu indera penting yang berperan besar dalam aktivitas sehari-hari, terutama untuk berkomunikasi. Jika fungsi pendengaran terganggu, kualitas hidup pun bisa ikut menurun.
Sayangnya, ada sejumlah kebiasaan yang kerap dianggap sepele, tetapi ternyata dapat berdampak serius pada kesehatan telinga.
Seperti organ tubuh lainnya, kesehatan pendengaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk gaya hidup dan kebiasaan harian.
Paparan suara keras secara berulang, baik dari earphone, konser musik, maupun lingkungan sekitar, menjadi penyebab utama gangguan pendengaran.
Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 50 persen orang berusia 12–35 tahun berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat paparan suara keras yang berlebihan, terutama dari perangkat audio pribadi.
Merangkum dari berbagai sumber, berikut kebiasaan yang dapat merusak pendengaran dan perlu diwaspadai.
- Mendengarkan musik terlalu keras dengan earphone
Penggunaan earphone atau earbuds dengan volume tinggi menjadi salah satu penyebab utama gangguan pendengaran pada anak muda. Banyak perangkat audio mampu menghasilkan suara lebih dari 100 desibel.
Paparan suara di atas 70 desibel dalam waktu lama dapat merusak sel rambut di telinga bagian dalam. Risiko semakin meningkat jika volume tinggi digunakan berjam-jam setiap hari. Disarankan untuk mengikuti aturan 60/60, yaitu maksimal 60 persen volume selama 60 menit.
- Menyetel audio mobil terlalu kencang
Stereo mobil dapat menghasilkan suara hingga 100–140 desibel, terlebih jika diputar pada volume maksimal. Ruang mobil yang tertutup membuat suara semakin terpantul dan terasa lebih keras.
Jika harus berteriak untuk berbicara dengan penumpang lain, itu menjadi tanda bahwa volume sudah berada di tingkat yang berbahaya bagi telinga.
- Tidak menggunakan pelindung telinga di lingkungan bising
Lingkungan dengan kebisingan tinggi seperti konser, klub malam, lokasi konstruksi, atau penggunaan alat berat dapat menghasilkan suara di atas 110 desibel. Pada level ini, kerusakan telinga bisa terjadi hanya dalam hitungan menit.
Telinga yang berdenging setelah terpapar suara keras merupakan tanda awal stres pada sistem pendengaran. Tanpa pelindung telinga seperti earplug atau earmuff, paparan berulang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
- Penggunaan earbud secara terus-menerus
Bukan hanya volume, durasi pemakaian earbud juga berpengaruh. Earbud yang masuk jauh ke dalam saluran telinga dapat memerangkap suara dan membuat telinga terpapar terus-menerus selama berjam-jam.
Kebiasaan ini meningkatkan kelelahan pendengaran dan mempercepat penurunan fungsi telinga, terutama pada usia produktif.
- Membersihkan telinga dengan cotton bud
Cotton bud justru sering mendorong kotoran telinga masuk lebih dalam, berisiko menyebabkan sumbatan, infeksi, hingga luka pada gendang telinga. Padahal, telinga memiliki mekanisme pembersihan alami.
Sebaiknya hindari memasukkan benda kecil ke dalam telinga. Gunakan obat tetes telinga untuk melunakkan kotoran atau konsultasikan ke tenaga medis bila diperlukan.
- Merokok
Zat beracun dalam rokok, seperti nikotin dan karbon monoksida, dapat mengganggu aliran darah ke telinga bagian dalam dan merusak saraf pendengaran. Merokok juga dapat mengiritasi tuba eustachius dan meningkatkan risiko infeksi telinga.
Perokok diketahui memiliki risiko gangguan pendengaran lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak merokok.
- Pola makan tidak seimbang
Kekurangan nutrisi seperti magnesium, vitamin B12, dan asam folat dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan pendengaran, terutama seiring bertambahnya usia. Dehidrasi juga dapat mengganggu keseimbangan cairan di telinga bagian dalam.
Pola makan sehat dengan sayuran hijau, buah-buahan, kacang-kacangan, serta cukup minum air membantu menjaga aliran darah yang baik ke telinga.
- Menunda pemeriksaan pendengaran
Gangguan pendengaran sering berkembang secara perlahan dan tidak disadari. Menunda pemeriksaan dapat membuat masalah terlambat terdeteksi dan berisiko menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk penurunan fungsi kognitif.
Disarankan melakukan tes pendengaran secara rutin, terutama setelah usia 40 tahun atau bagi mereka yang sering terpapar kebisingan.
- Membiarkan infeksi telinga tanpa pengobatan
Infeksi telinga yang tidak ditangani dapat menyebabkan penumpukan cairan dan tekanan pada gendang telinga. Jika berlangsung kronis, kondisi ini berisiko merusak struktur telinga tengah secara permanen.
Segera konsultasikan ke dokter THT jika mengalami nyeri berkepanjangan, keluarnya cairan dari telinga, atau gangguan pendengaran mendadak.
Menjaga kesehatan pendengaran dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Dengan menghindari berbagai kebiasaan buruk di atas, telinga dapat tetap sehat dan fungsi pendengaran terjaga hingga usia lanjut.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















