
BOGORTODAY.COM – Wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Nelson Lakes di Selandia Baru kini harus mematuhi aturan ketat saat memasuki kawasan Danau Rotomairewhenua, yang lebih dikenal sebagai Blue Lake.
Danau ini menyandang predikat sebagai perairan terjernih di dunia. Namun, keindahannya tengah terancam oleh penyebaran alga mikroskopis invasif yang berpotensi merusak ekosistemnya yang sangat rapuh.
Terancam Alga Mikroskopis Invasif
Danau Rotomairewhenua pertama kali ditemukan oleh suku Maori dari iwi Ngati Apa. Kini, kawasan tersebut menjadi perhatian serius otoritas lingkungan setempat.
Alga invasif sebenarnya telah ditemukan di wilayah hilir. Meski belum menyebar ke danau utama, ada kekhawatiran organisme tersebut dapat terbawa naik ke hulu melalui sepatu bot pendaki, botol minum, atau peralatan lain yang terkontaminasi.
Untuk menangani ancaman ini, badan konservasi setempat bersama Te Araroa Trust dan iwi Ngati Apa ki te Ra To menerapkan langkah-langkah biosekuriti ketat di sepanjang jalur pendakian menuju danau.
Wajib Bersihkan Peralatan Sebelum Masuk
Wisatawan diwajibkan membersihkan sepatu dan perlengkapan mereka di pos yang telah disediakan sebelum mendekati danau. Sejumlah papan peringatan juga dipasang untuk mengingatkan pendaki agar memastikan seluruh peralatan bebas dari kontaminasi alga.
Aturan paling penting yang wajib dipatuhi adalah larangan menyentuh air danau dalam bentuk apa pun. Pengunjung dilarang berenang, berendam, bahkan sekadar membasuh handuk untuk mendinginkan tubuh setelah pendakian.
Wisatawan juga tidak diperkenankan menggunakan kamera bawah air, termasuk perangkat seperti GoPro yang dicelupkan langsung ke dalam air untuk mengambil gambar.
Lindungi Ekosistem dan Hormati Nilai Sakral
Larangan tersebut tidak semata-mata didasari kekhawatiran biosekuriti, tetapi juga demi menghormati nilai budaya lokal. Dalam tradisi Maori, Rotomairewhenua dianggap sebagai perairan yang sangat sakral dan memiliki makna spiritual mendalam.
Selama musim panas, seorang petugas dari Departemen Konservasi atau perwakilan Ngati Apa berjaga di lokasi. Mereka tidak hanya mengawasi aktivitas pendaki, tetapi juga memberikan edukasi tentang bahaya biologis dan pentingnya menjaga kesucian danau.
Kepatuhan Meningkat, Edukasi Terus Digalakkan
Sejauh ini, tingkat kepatuhan wisatawan menunjukkan tren positif. Insiden turis yang nekat menceburkan diri setelah pendakian panjang dilaporkan semakin berkurang.
Meski demikian, hasil survei mengungkap masih ada sebagian kecil pengunjung yang merasa risiko pencemaran hanya disebabkan oleh orang lain, bukan diri mereka sendiri.
Otoritas setempat menilai bahwa membatasi jumlah pengunjung bukanlah solusi terbaik. Sebaliknya, mereka terus mendorong konsep pariwisata bertanggung jawab—mengajak wisatawan menikmati kejernihan Rotomairewhenua tanpa membahayakan ekosistemnya.
Keindahan Blue Lake memang memikat. Namun, menjaga kelestariannya jauh lebih penting agar danau terjernih di dunia ini tetap murni untuk generasi mendatang.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















