
Selain itu, dalam Al-Qur’an surah Asy-Syu’ara ayat 12–13 juga dikisahkan kekhawatiran Nabi Musa AS:
قَالَ رَبِّ اِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ۗ وَيَضِيْقُ صَدْرِيْ وَلَا يَنْطَلِقُ لِسَانِيْ فَاَرْسِلْ اِلٰى هٰرُوْنَ
Artinya:
“Dia (Musa) berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku takut mereka akan mendustakanku. Dadaku terasa sempit dan lidahku kelu. Maka, utuslah Harun (bersamaku).’”
Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun pernah merasa gugup. Namun, beliau menghadapinya dengan doa dan tawakal kepada Allah.
Adab Berbicara dalam Islam
Selain mengamalkan doa, seorang Muslim juga perlu memperhatikan etika berbicara. Dalam buku 63 Adab Sunnah karya Rachmat Morado Sugiarto, dijelaskan beberapa adab berbicara sesuai tuntunan Rasulullah SAW:
- Memilih Kata yang Baik atau Diam
Berpikir sebelum berbicara adalah keharusan. Jika tidak mampu berkata baik dan bermanfaat, lebih baik memilih diam.
- Mengutamakan Kalimat Thayyibah
Kesantunan dalam berucap adalah sedekah. Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah engkau terhadap neraka walau dengan menyedekahkan sepotong kurma, jika kalian tidak menemukannya maka dengan perkataan yang baik.”
(HR Imam Bukhari dan Imam Muslim)
- Mengontrol Kecepatan Bicara
Rasulullah SAW berbicara dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Dalam riwayat Aisyah yang dicatat oleh Imam Muslim, beliau tidak berbicara cepat seperti kebanyakan orang, sehingga setiap kata mudah dipahami.
- Mengulang Kalimat Jika Diperlukan
Dalam hadis riwayat Anas bin Malik yang dicatat oleh Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW terkadang mengulang perkataannya hingga tiga kali agar benar-benar dipahami.
- Menghindari Perdebatan yang Tidak Bermanfaat
Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Abu Dawud:
“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar.”
Menghindari debat kusir menunjukkan kedewasaan dan keluhuran akhlak.
Mengamalkan doa memperlancar lisan, seperti doa Nabi Musa AS, sekaligus menerapkan adab berbicara sesuai sunnah akan membuat komunikasi lebih berwibawa dan penuh keberkahan.
Baik untuk presentasi kerja, ujian lisan, berdakwah, maupun berbicara di hadapan publik, libatkanlah Allah SWT dalam setiap ucapan. Sebab, kelancaran lisan bukan hanya hasil latihan, tetapi juga karunia dari-Nya.
Wallahu a’lam.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















