7 Kereta Api Paling Lambat di Dunia dengan Panorama Menakjubkan

BOGORTODAY.COM Dunia saat ini hidup di tengah waktu yang berjalan serba cepat. Inovasi teknologi terus bermunculan dengan kecanggihan dan modernisasi yang memukau. Moda transportasi pun dirancang untuk memangkas waktu tempuh seefisien mungkin.

Kereta api, misalnya, berlomba-lomba menghadirkan layanan berkecepatan tinggi demi menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat modern.

Namun, di tengah hiruk pikuk yang serba tergesa itu, ada perjalanan yang justru memilih setia pada ritme lambat. Kereta-kereta ini tak berambisi menjadi yang tercepat. Sebaliknya, mereka menawarkan pengalaman yang mengajarkan bahwa keindahan tak selalu bisa dinikmati dalam hitungan detik.

Beberapa di antaranya bahkan disebut sebagai kereta penumpang paling lambat di dunia. Ketika banyak layanan kereta fokus pada kecepatan maksimal, kereta-kereta ini melaju perlahan—bukan tanpa alasan.

Medan ekstrem, jalur pegunungan yang curam, rel sempit, hingga faktor usia dan teknologi menjadi pertimbangan utama. Ada pula yang memang sengaja memperlambat laju agar penumpang dapat menyerap panorama yang tersaji sepanjang perjalanan.

Deretan kereta ini membuktikan bahwa perjalanan lambat justru bisa menjadi pengalaman paling mengesankan. Berikut beberapa kereta api penumpang paling lambat di dunia dengan panorama indah.

  1. Glacier Express – Swiss

Meski menyandang nama “Express”, kereta ini justru dikenal sebagai salah satu yang paling lambat di dunia. Rata-rata kecepatannya hanya sekitar 37 kilometer per jam.

BACA JUGA :  Inspektorat Kabupaten Bogor Tunggu Kabar Polres soal Dugaan Jual Beli Jabatan

Kereta ini menghubungkan Zermatt dan St. Moritz, menempuh jarak sekitar 291 kilometer dalam waktu kurang lebih delapan jam. Sepanjang perjalanan, penumpang disuguhi panorama Pegunungan Alpen yang megah. Tak tanggung-tanggung, rute ini melintasi 291 jembatan dan 91 terowongan, menghadirkan pemandangan dramatis yang sulit dilupakan.

  1. Nilgiri Mountain Railway – India

Kereta yang melintasi Tamil Nadu ini dikenal karena jalurnya yang ekstrem dan menanjak. Dengan kecepatan sekitar 9 kilometer per jam, kereta bergerak hati-hati melewati lereng curam dan tikungan tajam.

Meski terasa lambat, perjalanan ini justru menjadi daya tarik utama. Penumpang dapat menikmati perbukitan hijau, hutan lebat, dan lanskap khas India Selatan yang memesona.

  1. Darjeeling Himalayan Railway – India

Kereta ini melintasi Pegunungan Himalaya Timur dengan kecepatan rendah karena jalur yang sempit dan berliku. Selain faktor keamanan, laju lambat memberi kesempatan bagi penumpang menikmati perkebunan teh yang luas serta puncak-puncak gunung yang tertutup salju.

Perjalanan dengan kereta ini bukan sekadar transportasi, melainkan pengalaman menyusuri lanskap klasik India yang penuh pesona.

  1. Rute Mettupalayam–Ooty (India)

Kereta yang menghubungkan Mettupalayam dan Ooty ini melaju dengan kecepatan sekitar 9 kilometer per jam. Jalurnya membentang di dataran tinggi dengan rel berkelok, hutan rimbun, serta air terjun yang memanjakan mata.

BACA JUGA :  4 Area Rumah yang Wajib Dibersihkan Setiap Minggu Agar Tetap Nyaman dan Sehat

Bagi wisatawan, perjalanan ini terasa seperti wisata alam yang bergerak perlahan di atas rel.

  1. Howrah-Amritsar Express – India

Kereta ini memiliki kecepatan rata-rata sekitar 20–30 kilometer per jam. Meski tergolong lambat, perjalanan panjangnya menghadirkan ragam lanskap, mulai dari pedesaan yang tenang hingga hiruk pikuk kota-kota besar India.

Perubahan panorama yang kontras membuat perjalanan terasa dinamis tanpa harus terburu-buru.

  1. Rute Te Anau–Manapouri – Selandia Baru

Di Pulau Selatan Selandia Baru, kereta wisata yang melintasi rute Te Anau menuju Manapouri bergerak perlahan menyusuri hutan belantara. Perjalanan ini memang dirancang lambat agar wisatawan dapat menikmati lanskap alami yang masih asri dan jarang tersentuh.

  1. West Highland Line – Skotlandia

Jalur West Highland membawa penumpang dari Glasgow menuju Mallaig, melintasi dataran tinggi Skotlandia. Untuk menempuh jarak sekitar 180 kilometer, kereta membutuhkan waktu yang cukup panjang karena medan terjal dan berkelok.

Namun, sepanjang perjalanan, mata dimanjakan oleh pemandangan danau, perbukitan, hingga kastel-kastel tua yang berdiri megah.

Kereta-kereta ini mengingatkan bahwa perjalanan bukan sekadar soal tiba lebih cepat. Di atas rel yang berkelok dan menanjak, waktu seolah melambat—memberi ruang bagi penumpang untuk benar-benar hadir, melihat, dan merasakan.

Di dunia yang serba cepat, mungkin justru perjalanan lambatlah yang paling bermakna.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================