James Cameron Kritik Akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Netflix: Disebut Bisa Jadi “Bencana” bagi Industri Film

Sarandos mengklaim telah bertemu langsung dengan Cameron pada akhir Desember dan menjelaskan komitmen Netflix untuk tetap memberikan jendela penayangan 45 hari di bioskop bagi film-film Warner Bros.

“Saya telah berbicara tentang komitmen itu di media berkali-kali. Saya bersumpah di bawah sumpah di hadapan subkomite Senat tentang antimonopoli bahwa itulah yang sedang kami lakukan,” tegasnya.

Kritik dari Mark Ruffalo

Tak hanya dari pihak Netflix, aktor Mark Ruffalo juga ikut mengkritik sikap Cameron. Pemeran Hulk dalam semesta Marvel itu mempertanyakan konsistensi penolakan Cameron terhadap isu monopoli.

Melalui Instagram Threads, Ruffalo menulis bahwa jika Cameron menentang akuisisi oleh Netflix karena alasan monopoli, maka ia juga seharusnya menentang kemungkinan akuisisi oleh pihak lain.

BACA JUGA :  Gugatan Nikita Mirzani Ditolak, Kuasa Hukum Reza Gladys Sebut Putusan Perkuat Argumentasi Mereka

“Apakah Anda juga menentang monopolisasi yang akan tercipta jika Paramount mengakuisisi? Atau hanya monopolisasi Netflix saja?” tulis Ruffalo, seperti diberitakan Variety.

Ia juga mempertanyakan apakah Senator Mike Lee memiliki kekhawatiran serupa terhadap potensi akuisisi oleh pihak lain seperti Paramount.

Nilai Akuisisi dan Jadwal Penentuan

Netflix saat ini disebut siap mengakuisisi studio Warner Bros. dan platform HBO Max dalam kesepakatan senilai US$83 miliar.

Pada 17 Februari 2026, Warner Bros. membuka peluang tujuh hari bagi Paramount Skydance untuk mengajukan penawaran tandingan terakhir yang lebih unggul.

BACA JUGA :  Mitra MBG Tuntut Kepala BGN Baru Perkuat Regulasi dan Tata Kelola

Selanjutnya, pada 20 Maret 2026, para pemegang saham Warner Bros. Discovery dijadwalkan memberikan suara terkait penawaran akuisisi oleh Netflix.

Masa Depan Industri Film di Persimpangan

Perdebatan ini menyoroti ketegangan lama antara model distribusi bioskop tradisional dan platform streaming digital. Di satu sisi, streaming dinilai memberi akses lebih luas dan fleksibel bagi penonton. Di sisi lain, banyak sineas khawatir dominasi platform digital akan menggerus eksistensi bioskop serta ekosistem pekerja film.

Apapun hasil voting pemegang saham nanti, keputusan tersebut berpotensi mengubah lanskap industri hiburan global secara signifikan.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================