
Dari sisi efisiensi anggaran, BGN memberikan insentif sebesar Rp6 juta per hari untuk setiap SPPG, atau setara sekitar Rp144 juta per bulan. Skema tersebut dinilai lebih hemat dibandingkan jika pemerintah harus membangun dan mengelola seluruh fasilitas secara mandiri.
Dadan menekankan bahwa faktor waktu menjadi aspek paling berharga dalam pelaksanaan program melalui kemitraan ini.
“Kemudian, yang paling berharga dari proses kemitraan dan saya kira ini harus dihargai oleh negara kepada semua pihak yang turut membangun adalah the winning of time, yaitu kecepatan waktu. Waktu merupakan salah satu faktor di dunia ini yang tidak dapat dikembalikan, bersifat irreversible, dan berjalan satu arah,” jelasnya.
Kecepatan Jadi Kunci Keberhasilan
Ia menegaskan, percepatan pembangunan serta penguatan kemitraan menjadi strategi utama untuk memastikan seluruh target nasional program MBG tercapai tepat waktu dan berkelanjutan.
“Karena itu, dalam Al-Qur’an disebutkan Wal ‘Ashr (Demi Waktu). Hal tersebut sangat relevan, sebab dalam pelaksanaan program MBG, apabila tidak dijalankan dengan kecepatan tinggi, saya kira semua pihak akan sangat merugi,” tambah Dadan.
Dengan capaian 24.000 dapur MBG yang telah beroperasi, BGN optimistis program pemenuhan gizi nasional dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas gizi di seluruh Indonesia.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














