
Lagu tersebut diciptakan pada awal 1990-an di Yogyakarta, di tengah suasana kekecewaan dan semangat perlawanan terhadap rezim Orde Baru. John menggubah melodinya, sementara liriknya lahir dari kolaborasi pemikiran para aktivis mahasiswa saat itu.
Darah Juang pertama kali populer di kalangan aktivis Universitas Gadjah Mada (UGM), sebelum kemudian menyebar luas ke berbagai daerah di Indonesia.
Dengan lirik yang emosional seperti, “Bunda relakan darah juang kami, untuk membebaskan rakyat,” lagu tersebut menjadi simbol keberanian dan pengorbanan. Nyanyiannya kerap menggema dalam barisan demonstran, menyatukan semangat perjuangan dalam satu suara.
Warisan Moral Gerakan Mahasiswa
Selama lebih dari tiga dekade, Darah Juang telah menjadi identitas moral dalam berbagai aksi massa—mulai dari momentum Reformasi 1998 hingga unjuk rasa besar di era modern.
Kepergian John Tobing meninggalkan duka mendalam, terutama bagi mereka yang pernah merasakan bagaimana lagu ciptaannya membakar semangat perjuangan di jalanan.
Meski sang pencipta telah tiada, karya dan pesan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam setiap lantunan Darah Juang yang dinyanyikan generasi ke generasi.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















