BOGORTODAY.COM – Selama bulan Ramadan, suasana dini hari di banyak kampung di Indonesia terasa lebih hidup. Suara drum, kentongan, hingga berbagai benda yang ditabuh bergema di sudut-sudut permukiman. Anak-anak hingga orang dewasa berkeliling membangunkan warga sebagai penanda waktu sahur telah tiba.
Sahur sendiri merupakan aktivitas makan sebelum fajar atau waktu subuh sebagai persiapan menjalankan ibadah puasa hingga matahari terbenam.
Tradisi membangunkan sahur dengan tabuhan bunyi-bunyian ini telah mengakar kuat dalam budaya masyarakat Indonesia. Namun, tahukah bahwa tradisi tersebut ternyata memiliki jejak sejarah panjang dari Timur Tengah?
Al-Mesaharati, “Penyeru Malam” dari Timur Tengah
Mengutip laporan Al Arabiya, tradisi membangunkan sahur dikenal di dunia Islam Timur Tengah dengan sebutan al-mesaharati atau mesaharaty. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada “penyeru malam”.
Al-mesaharati adalah orang yang berjalan mengelilingi desa atau kota pada dini hari sambil menabuh drum untuk membangunkan warga agar bersiap sahur. Tradisi ini disebut telah muncul sejak masa Kekhalifahan Abbasiyah.
Di wilayah yang kini menjadi Mesir, mesaharaty tercatat telah berkeliling jalanan Kairo untuk mengingatkan waktu sahur sejak tahun 238 Hijriah.
Pendapat lain dari sejarawan Abdelmajid Abdul Aziz menyebutkan bahwa mesaharati pertama kali muncul di Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah. Kala itu, para penabuh drum—yang juga disebut “baza”—memukul gendang dengan irama keras dan berulang agar suaranya mampu membangunkan seluruh lingkungan. Informasi ini turut dilaporkan oleh Gulf News.
Tradisi yang Menyebar ke Berbagai Negara
Tradisi mesaharati memiliki kemiripan dengan kebiasaan membangunkan sahur di Indonesia. Para penabuh drum biasanya mendatangi rumah-rumah warga, memanggil nama penghuni, atau memukul drum dengan irama khas yang mudah dikenali.
Beberapa negara yang masih mempertahankan tradisi ini antara lain Arab Saudi, Mesir, dan Yaman. Di Kuwait, para penabuh drum bahkan berbaris di jalanan, diiringi anak-anak yang melantunkan doa-doa.
Di Maroko, tradisi ini juga berlangsung kuat. Para penabuh drum berkeliling di gang-gang kecil saat dini hari, menciptakan gema suara di antara rumah-rumah. Tradisi tersebut biasanya diwariskan secara turun-temurun dari ayah kepada anak, dan tetap lestari hingga kini.
Sementara itu di Palestina, khususnya di Kota Rafah, Jalur Gaza bagian selatan, suasana Ramadan juga diramaikan oleh tabuhan drum sahur.
Para penabuh drum mengenakan pakaian tradisional Palestina lengkap dengan topi merah dan syal putih. Mereka berkeliling selama sekitar 90 menit sebelum kembali ke rumah untuk menyantap sahur bersama keluarga.
Jejak Budaya yang Menghubungkan Umat Islam
Meski berkembang dalam konteks budaya yang berbeda, tradisi membangunkan sahur dengan tabuhan drum menunjukkan adanya jejak sejarah dan nilai kebersamaan yang serupa di berbagai belahan dunia Islam.
Di Indonesia, tradisi ini mungkin terasa sederhana dan penuh keceriaan. Namun di baliknya, terdapat warisan panjang dari Timur Tengah yang telah hidup selama berabad-abad. Dari gang-gang kecil di kampung hingga jalanan kota di Timur Tengah, suara tabuhan sahur menjadi simbol semangat kebersamaan dan pengingat untuk menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















