Berbohong adalah Perbuatan Tercela dalam Islam

Berbohong
Berbohong adalah Perbuatan Tercela dalam Islam. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM Berbohong merupakan perbuatan tercela yang dilarang dalam Islam. Allah SWT dan Rasul-Nya sangat membenci sifat dusta karena ia merusak keimanan, menghancurkan kepercayaan, serta menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 105:

إِنَّمَا يَفْتَرِى ٱلْكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَٰذِبُونَ

Artinya: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kebohongan sangat berkaitan dengan lemahnya iman. Bahkan, Rasulullah SAW menjadikan dusta sebagai salah satu tanda kemunafikan. Dalam hadits riwayat Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj, Rasulullah SAW bersabda:

“Tanda orang munafik ada tiga: berkata bohong, ingkar janji, dan mengkhianati amanah.”

Hadits ini menegaskan bahwa kebohongan bukanlah perkara sepele, melainkan ciri akhlak yang sangat tercela.

Berbohong dan Pengaruhnya terhadap Puasa

Ketika menjalankan ibadah puasa, seorang Muslim tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga lisan dan perilaku dari segala bentuk dosa, termasuk berbohong.

BACA JUGA :  Puncak HJB ke-544, Pemkot Bogor Tabur Penghargaan Bagi Masyarakat Kontributif dan Mitra Strategis

Menurut M. Quraish Shihab dalam bukunya, berbohong tidak membatalkan puasa secara hukum fikih, tetapi dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Artinya, puasa tetap sah, namun nilai spiritualnya berkurang akibat dosa yang dilakukan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Hati-hatilah kalian dari berdusta, karena dusta itu menjerumuskan ke dalam perbuatan keji, dan perbuatan yang keji itu akan memasukkannya ke dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa besar bahaya dusta. Ia menjadi pintu masuk berbagai keburukan yang pada akhirnya menyeret pelakunya ke dalam azab Allah SWT.

Perbedaan Pendapat Ulama

Mayoritas ulama berpendapat bahwa berbohong tidak membatalkan puasa secara hukum, namun menghilangkan pahala dan kesempurnaannya. Akan tetapi, terdapat pendapat lain dari ulama besar Syam, Abdurrahman Al-Auza’i, yang menyatakan bahwa berbohong, menggunjing, mencaci maki, dan mengadu domba dapat membatalkan puasa.

Pendapat ini dinukil dalam buku Berislam di Era Milenial karya Khoirul Anwar. Disebutkan bahwa Al-Auza’i merujuk pada hadits Nabi SAW yang berbunyi:

BACA JUGA :  Penjaga Warung Madura di Gunung Putri Diduga Ditodong Senpi

“Ada lima hal yang membatalkan puasa, yaitu menggunjing, mengadu domba, berbohong, melihat atau berkhayal disertai libido, dan sumpah palsu.”

Namun, para ulama mayoritas menafsirkan “membatalkan” dalam hadits tersebut sebagai batal pahala, bukan batal secara hukum fikih. Artinya, puasa tetap sah, tetapi tidak bernilai di sisi Allah karena tercemar dosa.

Menjaga Lisan sebagai Bentuk Kesempurnaan Ibadah

Puasa sejatinya adalah latihan pengendalian diri. Jika seseorang terpaksa berada dalam situasi sulit, hendaknya ia memilih kata-kata yang bijak dan tidak mengandung kebohongan. Islam mengajarkan kejujuran sebagai fondasi akhlak mulia.

Berbohong bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga mencederai hubungan dengan Allah SWT. Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjauhi dusta dalam kondisi apa pun, terlebih saat menjalankan ibadah puasa.

Semoga Allah SWT menjaga lisan dan hati kita dari kebohongan serta menjadikan kita hamba-hamba yang jujur.

Wallahu a’lam.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================