
Garam kalium mudah ditemukan di toko atau dijual secara online. Penggunaannya dapat dilakukan sebagai pengganti sebagian garam biasa saat memasak, misalnya menaburkan pada sayuran, daging, atau makanan lainnya.
Namun, jangan mengganti sepenuhnya garam biasa dengan garam kalium, karena rasa makanan bisa berubah menjadi pahit. Penggunaan terbatas dan proporsional tetap dianjurkan.
Siapa yang Perlu Hati-hati?
Meskipun bermanfaat, tidak semua orang aman mengonsumsi garam kalium. Kelompok yang perlu berhati-hati meliputi:
- Penderita penyakit ginjal atau gangguan fungsi ginjal
- Orang yang mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti:
- ACE inhibitor
- ARB (Angiotensin II Receptor Blocker)
- Diuretik penghemat kalium
Kadar kalium yang terlalu tinggi pada kelompok ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk gangguan irama jantung.
Alternatif Lain untuk Menambah Rasa Makanan
Jika ragu menggunakan garam kalium, ada pilihan lain untuk memberi rasa tanpa menambah natrium, misalnya:
- Rempah-rempah kering atau segar
- Bumbu alami, seperti bawang, jahe, atau cabai
- Cuka, jus lemon, atau jeruk nipis
Brownstein menekankan:
“Alternatif garam terbaik mungkin adalah tanpa garam sama sekali, tetapi menggunakan rempah dan bumbu alami untuk memberi rasa.”
Garam kalium klorida bisa menjadi alternatif bagi penderita hipertensi untuk mengurangi natrium, namun penggunaannya terbatas dan harus hati-hati. Bagi yang memiliki masalah ginjal atau sedang minum obat tertentu, konsultasi dokter sebelum konsumsi garam kalium adalah langkah wajib.
Dengan pengaturan asupan natrium dan kalium yang tepat, risiko hipertensi dan komplikasi jantung dapat ditekan, sambil tetap menjaga cita rasa makanan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















