
Kepala analis Xeneta, Peter Sand, memperkirakan tarif pengiriman kontainer ke wilayah Timur Tengah berpotensi meningkat selama konflik masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa saat ini tidak ada jalur alternatif laut yang benar-benar andal untuk menggantikan peran Selat Hormuz.
Meski pemblokiran kapal tanker minyak disebut bersifat sementara, dampaknya bisa signifikan terhadap harga energi global. Gangguan pasokan minyak dan gas berpotensi mendorong lonjakan harga, sekaligus meningkatkan biaya pengiriman dan memicu kelangkaan pasokan di sejumlah negara.
Raksasa Pelayaran Alihkan Rute
Selain Maersk, perusahaan pelayaran Jerman Hapag-Lloyd menyatakan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz akan ditangguhkan demi keselamatan dan keamanan awak kapal.
Perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM juga menginstruksikan seluruh kapal di kawasan Timur Tengah atau yang menuju wilayah tersebut untuk berlindung di area aman. Pelayaran melalui Terusan Suez pun ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan rute kapal dialihkan melalui Tanjung Harapan di sekitar Afrika.
Sementara itu, perusahaan pelayaran peti kemas terbesar di dunia, MSC, menyatakan telah memerintahkan seluruh kapalnya di kawasan Timur Tengah untuk menuju area aman yang telah ditentukan. MSC juga menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi secara ketat.
Dampak Global Tak Terhindarkan
Penutupan dua selat strategis ini menjadi pukulan besar bagi sistem perdagangan global. Dengan sebagian besar energi dunia dan barang-barang penting melintasi kawasan tersebut, gangguan berlarut dapat memperparah inflasi global, menaikkan biaya logistik, dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Selama konflik masih berlangsung, dunia menghadapi ketidakpastian besar terhadap stabilitas pasokan energi dan kelancaran perdagangan internasional.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















