
Mereka menyatakan dukungan besar tetap diarahkan ke industri strategis, sementara ekspansi program kesejahteraan sosial diperlambat. Subsidi dan insentif pajak lebih banyak diberikan untuk mendorong kapasitas industri dibandingkan mendorong daya beli masyarakat.
Rencana Stimulus dan Kebijakan Fiskal
China juga merencanakan defisit anggaran sebesar 4% dari PDB, hampir sama dengan tahun lalu, dengan kuota penerbitan utang khusus sebesar 1,3 triliun yuan (US$ 188,49 miliar) untuk pemerintah pusat dan 4,4 triliun yuan untuk pemerintah daerah.
Selain itu, pemerintah berkomitmen menaikkan pensiun minimum bulanan sebesar 20 yuan per orang dan meningkatkan subsidi asuransi kesehatan dasar bagi masyarakat pedesaan yang tidak bekerja sebesar 24 yuan. Belanja di sektor pendidikan, layanan penitipan anak, dan reformasi rumah sakit publik juga menjadi prioritas.
Larry Hu, kepala ekonom China di Macquarie, memperkirakan kebijakan fiskal akan disesuaikan secara fleksibel berdasarkan kondisi ekonomi. “Jika ekspor tetap kuat, konsumsi domestik yang lemah mungkin ditoleransi. Sebaliknya, jika ekspor melemah, stimulus domestik akan ditingkatkan untuk mempertahankan target pertumbuhan PDB,” ujar Hu.
Langkah-langkah ini menunjukkan strategi China yang berupaya menyeimbangkan antara menjaga pertumbuhan ekonomi, memperkuat industri strategis, serta perlahan meningkatkan kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap perekonomian.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















