
“Baterai energi atom ini dapat memenuhi kebutuhan daya jangka panjang untuk berbagai perangkat, termasuk alat pacu jantung, jantung buatan, dan implant koklea,” ujar Betavolt, seperti dikutip dari The Independent.
Selain itu, baterai ini juga ramah lingkungan. Setelah masa peluruhan isotop nickel-63, residu yang terbentuk adalah tembaga stabil non-radioaktif, sehingga tidak menimbulkan ancaman bagi lingkungan.
Meskipun inovasi Betavolt menarik perhatian, baterai nuklir sendiri bukan teknologi baru. Sebelumnya, ilmuwan di Uni Soviet dan Amerika Serikat telah mengembangkan baterai nuklir untuk aplikasi seperti pesawat luar angkasa, sistem bawah air, dan stasiun penelitian jarak jauh. Namun, baterai sebelumnya berukuran besar dan sangat mahal.
Dengan BV100, China berupaya memperkenalkan baterai nuklir mini yang lebih praktis, aman, dan dapat mendukung revolusi teknologi modern, termasuk di bidang AI, drone, dan perangkat medis.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















