
Apabila hilal terlihat dan memenuhi kriteria yang disepakati negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), maka 1 Syawal akan ditetapkan pada hari berikutnya. Sebaliknya, jika hilal tidak terlihat, bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari, yang dikenal dengan istilah istikmal.
Sementara itu, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin, memperkirakan posisi hilal saat pengamatan di wilayah Indonesia kemungkinan belum memenuhi kriteria MABIMS. Oleh karena itu, ia memprediksi Lebaran berpotensi jatuh pada 21 Maret 2026.
Penetapan Lebaran 2026 Versi Muhammadiyah
Berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan tanggal Idul Fitri 1447 Hijriah. Melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025, organisasi tersebut menentukan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Penentuan tersebut didasarkan pada metode hisab yang dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Perhitungan ini mengikuti prinsip serta parameter yang digunakan dalam sistem Kalender Hijriah Global Tunggal.
Dalam hasil perhitungan tersebut disebutkan bahwa ijtimak menjelang Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, sekitar pukul 01.23.28 UTC.
Saat matahari terbenam pada hari tersebut, sebelum pukul 24.00 UTC, sudah ada wilayah di bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG). Berdasarkan kondisi tersebut, Muhammadiyah menetapkan bahwa awal bulan Syawal dimulai pada 20 Maret 2026.
Dengan adanya perbedaan metode penentuan, kemungkinan Lebaran tahun 2026 dirayakan pada tanggal yang berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah tetap terbuka. Namun, kepastian tanggal Idul Fitri versi pemerintah baru akan diketahui setelah sidang isbat dilaksanakan menjelang akhir Ramadan.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















