
BOGORTODAY.COM – Harga minyak mentah global mengalami penurunan tajam pada perdagangan Selasa (10/3/2026). Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak tahun 2022, dipicu oleh perkembangan geopolitik yang mengindikasikan kemungkinan meredanya konflik dengan Iran.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak minyak acuan Brent crude turun sebesar US$11,16 atau sekitar 11 persen sehingga berada di level US$87,80 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah US$11,32 atau sekitar 11,9 persen menjadi US$83,45 per barel.
Penurunan tersebut terjadi hanya sehari setelah harga minyak sempat melonjak hingga di atas US$119 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. Lonjakan sebelumnya dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global setelah adanya pemangkasan produksi dari Arab Saudi dan beberapa negara produsen lainnya.
Namun situasi pasar berubah cepat setelah pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir. Pernyataan tersebut memicu optimisme bahwa risiko gangguan distribusi minyak bisa segera mereda.
Penurunan harga juga dipengaruhi oleh pernyataan Menteri Energi AS, Chris Wright, yang sempat mengunggah informasi di media sosial bahwa militer Amerika membantu mengamankan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Ia menyebut Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker agar distribusi minyak tetap berjalan ke pasar global.
Meski unggahan tersebut kemudian dihapus, pasar sudah terlanjur merespons positif kemungkinan terbukanya kembali jalur pelayaran penting tersebut.
Analis dari Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menilai bahwa sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh harapan bahwa jalur energi utama di kawasan Timur Tengah akan kembali normal.
Selain faktor militer, dinamika diplomatik juga turut memengaruhi pasar energi. Sebelumnya, Trump diketahui melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas kemungkinan penyelesaian cepat konflik dengan Iran.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump bahkan menyebut operasi militer terhadap Iran hampir selesai dan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal yang sebelumnya diprediksi memakan waktu empat hingga lima minggu.
Di sisi lain, pemerintah Israel juga memberi sinyal tidak menginginkan konflik berkepanjangan dengan Iran. Menteri luar negeri negara tersebut menyatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Amerika Serikat terkait waktu penghentian operasi militer.
Sementara itu, dalam laporan bulanan terbarunya, Energy Information Administration memperkirakan harga minyak Brent masih akan berada di atas US$95 per barel dalam dua bulan mendatang karena dampak gangguan pasokan akibat konflik Iran. Namun dalam jangka lebih panjang, harga diprediksi dapat turun hingga sekitar US$70 per barel menjelang akhir tahun.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















