
BOGORTODAY.COM – Di tengah memanasnya konfrontasi militer antara Teheran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel, otoritas Iran mulai menerapkan kebijakan perlintasan terbatas di Selat Hormuz.
Jalur perairan paling vital bagi pasokan energi dunia tersebut kini tidak ditutup sepenuhnya, melainkan dikendalikan secara selektif oleh militer Iran.
Teheran menegaskan bahwa penutupan jalur hanya berlaku bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai “lawan”, sementara kapal dari negara netral tetap diperbolehkan melintas dengan syarat tertentu.
Prosedur Koordinasi Militer yang Ketat
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pada Senin (16/3/2026) bahwa beberapa kapal tanker minyak telah mendapatkan izin untuk melewati celah strategis tersebut.
Senada dengan hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menjelaskan bahwa kelancaran perlintasan sangat bergantung pada koordinasi langsung dengan militer Teheran.
“Kami mengizinkan kapal dari negara-negara yang tidak terlibat dalam konflik untuk melintasi Selat Hormuz, selama mereka melalui proses perizinan dan koordinasi militer yang telah ditetapkan,” ungkap Baghaei melalui media lokal setempat.
Daftar Negara yang Mendapat Izin Melintas
Meskipun ketegangan sempat menghentikan arus lalu lintas maritim secara total dalam dua pekan terakhir, beberapa negara sahabat dilaporkan berhasil mengirimkan kapalnya tanpa gangguan:
- India: Dua kapal tanker pengangkut LPG milik otoritas India berhasil melintas dengan selamat pada Sabtu pagi (14/3).
- Pakistan: Kapal tanker Karachi yang dikelola oleh National Shipping Corporation Pakistan sukses menyelesaikan pelayarannya pada Minggu (15/3).
- Turki: Kapal berbendera Turki bernama Rozana juga diizinkan lewat setelah adanya koordinasi diplomatik antara Ankara dan Teheran.
- Negara Lain: Kapal asal Bangladesh juga disebut masuk dalam daftar yang diperbolehkan melintas dengan aman.
Dampak pada Stabilitas Energi Global
Langkah Iran untuk membuka jalur secara selektif ini dipandang sebagai upaya untuk meredam kekhawatiran krisis energi yang lebih luas.
Selat Hormuz memegang peranan krusial, mengingat sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada jalur ini.
Ketegangan yang meletus sejak akhir Februari 2026 telah memicu kekhawatiran pasar global setelah pangkalan militer dan infrastruktur energi menjadi target serangan rudal serta drone.
Dengan mengizinkan kapal dari negara non-konflik, Iran seolah mengirimkan pesan bahwa mereka masih menghargai hubungan dagang dengan negara-negara di luar lingkaran konflik AS-Israel.
Hingga saat ini, penjagaan besar-besaran masih dilakukan di sekitar selat, dan setiap kapal yang melintas berada di bawah pengawasan ketat radar militer Iran guna memastikan tidak ada pihak “musuh” yang memanfaatkan celah tersebut.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















