Orion dan Misi Artemis II: Langkah Baru Manusia Menuju Bulan

BOGORTODAY.COM – Setelah lebih dari 50 tahun sejak misi Apollo terakhir, NASA kembali bersiap mengirim manusia ke sekitar Bulan melalui program Artemis. Dalam misi Artemis II, pesawat ruang angkasa Orion akan menjadi kendaraan utama yang membawa empat astronaut untuk menjalani perjalanan bersejarah mengelilingi satelit alami Bumi.

Empat awak yang terpilih dalam misi ini adalah Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Jika seluruh persiapan berjalan lancar, peluncuran dijadwalkan berlangsung pada awal April, dengan durasi misi sekitar 10 hari, termasuk fase mengorbit Bulan sebelum kembali ke Bumi.

Perjalanan Orion menuju tahap ini tidak singkat. Wahana ini pertama kali diuji melalui penerbangan perdana pada 2014. Kemudian, pada akhir 2022, Orion sukses menjalani misi Artemis I tanpa awak, mengorbit Bulan dan kembali dengan selamat. Keberhasilan tersebut menjadi fondasi penting untuk misi berawak Artemis II.

Orion dikembangkan melalui kolaborasi antara NASA dan perusahaan dirgantara Lockheed Martin. Secara tampilan, kapsul ini sekilas mengingatkan pada modul Apollo, namun dengan teknologi yang jauh lebih maju. Dengan diameter sekitar 5,2 meter dan tinggi mencapai 15 meter, Orion mampu menampung empat astronaut dengan ruang kabin yang lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

BACA JUGA :  Bahlil Pastikan Harga BBM dan LPG Subsidi Tetap, Kenaikan Hanya Berlaku untuk Produk Non-Subsidi

Meski berukuran besar, kapsul ini dirancang efisien dengan massa sekitar 7,7 ton untuk misi Artemis II. Energi listrik selama perjalanan disuplai oleh empat panel surya besar yang dapat terbentang, memastikan seluruh sistem tetap berfungsi optimal.

Keunggulan Orion tidak hanya pada desainnya, tetapi juga pada sistem teknologi yang dibenamkan. Komputer penerbangannya memiliki kemampuan pemrosesan jauh melampaui era Apollo, mampu mengelola data dari berbagai sensor secara real-time untuk memastikan navigasi dan kendali berjalan presisi.

Untuk bermanuver di ruang angkasa, Orion dilengkapi modul layanan dari Eropa yang memiliki puluhan mesin pendorong, termasuk mesin utama untuk perjalanan jarak jauh di sekitar Bulan. Sistem ini memungkinkan kapsul bergerak dengan akurasi tinggi dalam lingkungan tanpa gravitasi.

Faktor keselamatan menjadi prioritas utama dalam pengembangan Orion. Wahana ini dilengkapi sistem peluncuran darurat (Launch Abort System) yang dapat menyelamatkan awak dalam kondisi kritis. Selain itu, sistem cadangan berlapis memastikan misi tetap berjalan meskipun terjadi gangguan teknis.

BACA JUGA :  Doa Melepas Pakaian dalam Islam: Amalan Sederhana dengan Banyak Keutamaan

Saat kembali ke Bumi, Orion mengandalkan sistem parasut canggih yang akan memperlambat kecepatan kapsul sebelum mendarat di lautan. Seluruh proses dirancang untuk menjamin keselamatan awak hingga akhir misi.

Pengembangan Orion sendiri telah melalui perjalanan panjang sejak awal 2000-an. Meski sempat terdampak pembatalan program Constellation pada 2010, NASA memutuskan untuk melanjutkan proyek ini karena dinilai paling siap dan efisien untuk mendukung eksplorasi antariksa masa depan.

Kini, Orion menjadi bagian penting dari program Artemis, yang tidak hanya bertujuan mengorbit Bulan, tetapi juga mengembalikan manusia untuk mendarat di permukaannya dalam beberapa tahun mendatang.

Dengan teknologi mutakhir dan dukungan internasional, misi Artemis II menjadi simbol kebangkitan eksplorasi luar angkasa manusia—membuka jalan menuju era baru penjelajahan yang lebih ambisius, termasuk kemungkinan misi ke Mars di masa depan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================