
Ancaman Trump mendapat kritik dari berbagai pihak. Para pengamat menilai serangan terhadap pembangkit listrik sipil dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang, namun Trump membantah hal tersebut.
“Saya tidak khawatir tentang itu. Tahukah Anda apa itu kejahatan perang? Memiliki senjata nuklir,” kata Trump.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, memperingatkan bahwa volume serangan terbesar sejak awal operasi terhadap Iran telah terjadi pada Senin, dan serangan lebih lanjut diperkirakan akan berlangsung pada Selasa.
Di sisi lain, pemerintah Iran bersikeras pada tuntutan mereka terkait Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dan gas global. Pejabat komunikasi Presiden Iran, Mehdi Tabatabaei, menyebut bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika kerusakan akibat perang sepenuhnya dikompensasi sesuai kerangka hukum baru.
Komando angkatan laut Garda Revolusi Iran, pasukan elite negara itu, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya, terutama bagi Amerika Serikat dan Israel. Iran mengklaim kendali penuh atas jalur tersebut dan berencana memberlakukan sistem tarif untuk kapal-kapal yang melintas.
Ketegangan ini menandai eskalasi signifikan dalam hubungan antara AS dan Iran, dengan dampak potensial besar bagi pasar energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















