Jarang Sarapan Bisa Berdampak pada Kesehatan Mental, Ini Penjelasannya

Sarapan
Ilustrasi Sarapan. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Bagi banyak orang, melewatkan sarapan sering dianggap hal biasa, terutama saat pagi terasa terburu-buru. Bangun kesiangan, harus segera beraktivitas, atau belum merasa lapar menjadi alasan utama sarapan kerap diabaikan. Padahal, kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental.

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan tidak sarapan dengan meningkatnya risiko gangguan psikologis, khususnya pada remaja. Salah satunya berasal dari studi berjudul Association of Breakfast Consumption Frequency with Depression and Anxiety Symptoms Among School Students yang dilakukan di China Timur.

BACA JUGA :  Emotional Security dalam Hubungan: Kunci Agar Cinta Tetap Harmonis dan Bertahan Lama

Hasil penelitian tersebut mengungkap bahwa remaja yang jarang sarapan cenderung lebih rentan mengalami gejala kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang rutin makan pagi.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian lain berjudul Breakfast Consumption and Mental Health. Studi ini menunjukkan pola konsisten bahwa kebiasaan melewatkan sarapan berkaitan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental.

BACA JUGA :  7 Cara Menghadapi Orang Toksik Tanpa Mengorbankan Kesehatan Mental
Sarapan
Ilustrasi Menu Sarapan. (Foto: iStock)

Bahkan, risiko depresi pada remaja yang tidak sarapan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara risiko kecemasan dilaporkan naik hingga lebih dari 50 persen.

Kaitan antara sarapan dan kondisi mental tidak lepas dari cara kerja otak. Salah satu faktor penting adalah Serotonin, zat kimia yang berperan menjaga kestabilan suasana hati.

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================