Mengenal Perbedaan Anak Aktif dan Hiperaktif agar Orang Tua Lebih Siap Menghadapinya

Berdasarkan informasi dari Child Mind Institute dan CLND Neuropsychology, berikut perbedaan yang bisa menjadi panduan bagi orang tua:

  1. Kemampuan Fokus dan Konsentrasi

Anak aktif biasanya bisa tetap fokus ketika melakukan aktivitas yang disukai atau diarahkan. Sebaliknya, anak hiperaktif kesulitan mempertahankan perhatian, mudah terdistraksi, dan sering meninggalkan aktivitas sebelum selesai.

  1. Kontrol Impuls

Anak aktif memiliki kontrol diri yang baik: menunggu giliran, mengikuti aturan, dan mengubah perilaku saat diingatkan. Anak hiperaktif justru cenderung bertindak spontan tanpa mempertimbangkan akibatnya, seperti memotong pembicaraan atau mengubah rencana tiba-tiba.

  1. Mengikuti Instruksi

Anak aktif mampu memahami dan menjalankan arahan, baik sederhana maupun bertahap. Anak hiperaktif sering kesulitan mengikuti instruksi, mudah lupa, dan kehilangan fokus di tengah tugas.

  1. Perilaku di Sekolah
BACA JUGA :  Kebiasaan Begadang Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak, Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Anak aktif biasanya dapat bekerja sama dengan teman dan mengikuti aturan. Anak hiperaktif kerap menghadapi kesulitan sosial dan akademik, misalnya sulit bekerja dalam kelompok, melanggar aturan, atau tidak menyelesaikan tugas meski kemampuan akademiknya memadai.

  1. Respons terhadap Frustrasi

Anak aktif bisa menenangkan diri saat kecewa atau menghadapi hambatan. Anak hiperaktif lebih mudah marah, menangis, atau bereaksi berlebihan ketika situasi tidak sesuai harapan.

  1. Pengaturan Aktivitas dan Waktu
BACA JUGA :  Waspadai Tanda-Tanda Korsleting Listrik di Rumah, Kenali Gejalanya Sebelum Terjadi Kebakaran

Anak aktif mampu menjaga kerapian barang dan menjalani rutinitas harian dengan arahan ringan. Anak hiperaktif sering kehilangan barang, lupa jadwal, dan kesulitan mengatur waktu serta prioritas.

Pentingnya Pendekatan yang Tepat

Memahami perbedaan ini membantu orang tua memberikan pengasuhan yang sesuai, mendukung perkembangan anak, dan meminimalkan gangguan pada aktivitas belajar atau interaksi sosial.

Jika perilaku anak mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau dokter anak, bisa menjadi langkah yang tepat untuk mendapatkan penanganan dan pemahaman lebih akurat.

Halaman:
« 1 2 » Semua

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================