Strategi Baru Jepang Menghadapi Lonjakan Wisatawan Global

Jepang
Strategi Baru Jepang Menghadapi Lonjakan Wisatawan Global. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Selama bertahun-tahun, Jepang dikenal sebagai negara yang mampu memadukan warisan tradisional dengan kemajuan modern. Pemandangan kuil-kuil bersejarah yang berdiri di tengah kota futuristik menjadi simbol keseimbangan tersebut.

Namun, meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara dalam beberapa tahun terakhir mulai memberi tekanan pada harmoni ini.

Sebagai respons, pemerintah Jepang mengambil langkah strategis dengan menaikkan pajak wisatawan serta memperluas pungutan pada sektor akomodasi. Kebijakan ini dirancang untuk mengatasi fenomena overtourism sekaligus meningkatkan kualitas layanan pariwisata.

Kenaikan Pajak Keberangkatan Internasional

Mulai pertengahan 2026, Jepang akan memberlakukan kenaikan pajak keberangkatan bagi wisatawan internasional. Jika sebelumnya tarif berada di angka 1.000 yen, kini naik menjadi 3.000 yen per orang.

Pajak ini dikenakan kepada setiap wisatawan yang meninggalkan Jepang melalui jalur udara maupun laut, dan umumnya sudah termasuk dalam harga tiket perjalanan. Anak-anak di bawah usia dua tahun tetap mendapatkan pengecualian.

Meskipun secara nominal kenaikannya terlihat tidak terlalu besar, kebijakan ini memiliki tujuan jangka panjang. Dana yang terkumpul akan dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur, seperti peningkatan fasilitas bandara, optimalisasi transportasi publik, penyediaan layanan informasi dalam berbagai bahasa, hingga pengembangan destinasi wisata baru di luar pusat kota.

BACA JUGA :  Argentina di Piala Dunia 2026: Kandidat Kuat Pertahankan Gelar Juara

Dampak Lonjakan Wisatawan di Kota Besar

Kota-kota utama seperti Tokyo, Osaka, dan Kyoto menjadi titik utama lonjakan wisatawan pascapandemi. Kepadatan mulai terasa di berbagai sektor, mulai dari transportasi umum hingga kawasan wisata populer.

Situasi ini mendorong pemerintah untuk tidak hanya mengendalikan jumlah wisatawan, tetapi juga memastikan pengalaman berwisata tetap nyaman dan berkelanjutan bagi semua pihak, termasuk penduduk lokal.

Perluasan Pajak Akomodasi di Berbagai Daerah

Selain pajak keberangkatan, Jepang juga memperluas kebijakan pajak hotel yang dikelola oleh pemerintah daerah. Berbeda dengan pajak nasional, besaran pajak ini bervariasi tergantung wilayah dan harga penginapan.

Secara umum, tarif berkisar antara 100 hingga 500 yen per orang per malam. Namun, beberapa daerah mulai menerapkan pendekatan yang lebih spesifik. Di Hokkaido, misalnya, pajak disesuaikan dengan harga kamar, sementara Hiroshima memanfaatkan pungutan ini untuk mendukung pengembangan fasilitas wisata.

Wilayah lain seperti Miyagi Prefecture, Sendai, Gifu, hingga Yugawara juga mulai menerapkan kebijakan serupa. Bahkan, Okinawa tengah merancang pajak tambahan berbasis persentase dari total biaya menginap.

Kyoto dan Langkah Tegas Mengatasi Overtourism

Di antara berbagai wilayah, Kyoto menjadi yang paling agresif dalam menerapkan kebijakan pajak akomodasi. Sejak 2026, kota ini menetapkan tarif pajak yang jauh lebih tinggi, terutama untuk hotel kelas menengah hingga mewah, yang bisa mencapai ribuan yen per malam.

BACA JUGA :  Hilang Kendali, Truk Boks Hantam Tiang dan Motor di Bogor

Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tekanan besar di kawasan bersejarah, seperti distrik Gion. Kepadatan wisatawan di area ini sering menimbulkan masalah, mulai dari jalan yang sesak hingga perilaku wisatawan yang kurang menghormati norma lokal.

Pemerintah kota berharap kebijakan ini dapat membantu membiayai pelestarian budaya, memperbaiki infrastruktur, serta menjaga kualitas hidup warga setempat.

Dampak bagi Wisatawan dan Arah Baru Pariwisata Jepang

Bagi wisatawan, tambahan biaya ini mungkin tidak terlalu signifikan untuk perjalanan singkat. Namun, bagi mereka yang berencana melakukan perjalanan panjang atau menginap di hotel mewah, akumulasi biaya bisa menjadi lebih terasa.

Lebih dari sekadar kebijakan fiskal, langkah ini mencerminkan perubahan arah pariwisata Jepang. Fokusnya kini bergeser dari sekadar meningkatkan jumlah kunjungan menjadi menciptakan pengalaman wisata yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

Dengan pendekatan ini, Jepang berupaya menjaga identitas budayanya tetap lestari di tengah arus globalisasi yang semakin deras.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================