
Hal senada disampaikan Abdul Hamid Faisal, yang menyebut MQK sebagai bagian dari proses pembelajaran di kelas takhosus. Ia menjelaskan bahwa persiapan lomba menjadi sarana untuk menguji mental sekaligus mengukur kemampuan dalam memahami kitab kuning.
“MQK ini menjadi ajang untuk membuktikan sejauh mana kemampuan kami, baik dari sisi bacaan maupun pemahaman,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya mempelajari kitab kuning sebagai bagian dari tradisi keilmuan Islam yang memiliki sanad yang jelas. Menurutnya, hal ini tidak terlepas dari peran para ulama dan guru yang telah mewariskan ilmu kepada para santri.
Abdul Hamid turut menyampaikan apresiasi kepada Pemkab Bogor yang terus memberikan perhatian terhadap pengembangan pesantren. Ia optimistis, dengan adanya dukungan tersebut, santri dapat terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengawas MQK Kabupaten Bogor, KH. Lesmana, mengapresiasi antusiasme para peserta yang berasal dari berbagai kecamatan. Ia menilai MQK memiliki peran penting dalam mengasah kemampuan santri dalam membaca, menerjemahkan, dan memahami kitab kuning secara komprehensif.
“Ini adalah bagian dari upaya mencetak generasi ulama yang akan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Panitia penyelenggara, Ade Sarmili, menambahkan bahwa MQK ke-2 melombakan puluhan kitab dalam beberapa tingkatan, mulai dari ula, wustha, hingga ulya. Para peserta merupakan utusan dari seluruh kecamatan dengan latar belakang pesantren yang telah terdaftar secara resmi.
“MQK diharapkan menjadi sarana mencetak kader ulama masa depan serta memperkuat pemahaman keagamaan di tengah tantangan era digital,” jelasnya.
Ia menambahkan, para juara nantinya akan dibina untuk mengikuti kompetisi di tingkat yang lebih tinggi, baik provinsi maupun nasional.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Diskominfo Kabupaten Bogor
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















