IMF Peringatkan Ancaman Kekurangan Minyak Global pada 2026

BOGORTODAY.COM – International Monetary Fund (IMF) memperkirakan dunia berpotensi menghadapi kekurangan pasokan minyak pada tahun 2026. Risiko ini tetap membayangi bahkan jika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mereda dalam waktu dekat.

Kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan bahwa pemulihan distribusi minyak tidak serta-merta menghilangkan ancaman kekurangan pasokan.

Menurutnya, meskipun jalur penting seperti Selat Hormuz kembali dibuka, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan tetap akan terjadi dalam waktu dekat.

Pemerintah Diminta Waspada dalam Kebijakan Subsidi

IMF juga mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar tidak terlalu agresif dalam menggelontorkan subsidi energi. Meskipun kebijakan tersebut bertujuan melindungi masyarakat dari lonjakan harga, langkah itu berisiko memperburuk kondisi keuangan negara.

Sebelum konflik memanas, banyak negara sudah menghadapi tekanan fiskal. Karena itu, IMF menilai penting bagi pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan stabilitas anggaran.

Pasokan Minyak Global Mengalami Penurunan Tajam

Sinyal kekhawatiran juga datang dari International Energy Agency (IEA). Dalam laporan terbarunya, IEA mencatat penurunan pasokan minyak global hingga 10,1 juta barel per hari pada Maret 2026—angka yang disebut sebagai penurunan terbesar sepanjang sejarah.

BACA JUGA :  Gandeng Jakarta Bartender Club, STP Bogor Gelar 'Signature Session 2026' untuk Kupas Seni di Balik Bar

Meski belum memprediksi defisit pasokan secara langsung, IEA memangkas proyeksi kelebihan suplai minyak secara signifikan. Jika sebelumnya surplus diperkirakan mencapai 2,4 juta barel per hari, kini angkanya menyusut menjadi sekitar 441 ribu barel per hari.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran besar dalam dinamika pasar energi global, terutama sejak konflik geopolitik meningkat.

Dampak Konflik terhadap Ekonomi Global

Sebelum ketegangan antara AS dan Iran meningkat, IMF sempat memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan membaik. Optimisme itu didorong oleh meredanya ketidakpastian kebijakan tarif serta meningkatnya investasi di sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan.

Namun, pecahnya konflik membuat prospek tersebut berubah drastis. IMF kini menilai dunia menghadapi risiko krisis energi berskala besar yang dapat memicu perlambatan ekonomi secara luas.

BACA JUGA :  Piala Dunia 2026 Jadi Tantangan Kesehatan Global, Tim Ahli Pantau Potensi Wabah Secara Real-Time

Proyeksi Pertumbuhan dan Risiko Resesi

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 hanya mencapai sekitar 3,1 persen, turun dari proyeksi sebelumnya. Sementara itu, inflasi global diprediksi meningkat hingga 4,4 persen.

Dalam skenario yang lebih buruk, jika konflik berlangsung lebih lama, harga minyak dan gas alam bisa melonjak hingga dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat pada 2027. Kondisi tersebut berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global hingga mendekati 2 persen.

Jika angka itu terjadi, dunia akan berada di ambang resesi global—situasi yang tergolong langka dan hanya beberapa kali terjadi sejak 1980.

Peringatan IMF menjadi sinyal serius bagi dunia untuk bersiap menghadapi potensi krisis energi. Ketidakpastian geopolitik, penurunan pasokan, serta tekanan terhadap ekonomi global menjadi kombinasi risiko yang tidak bisa diabaikan.

Langkah antisipasi yang tepat, baik dalam kebijakan energi maupun pengelolaan ekonomi, akan sangat menentukan kemampuan setiap negara dalam menghadapi tantangan ini.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================