Ketegangan AS-Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

BOGORTODAY.COM Harga minyak global kembali menguat tajam setelah sebelumnya mengalami penurunan signifikan lebih dari 9% pada pertengahan April.

Pemulihan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah penutupan kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia.

Minyak mentah Brent crude oil tercatat naik sebesar US$ 6,11 atau sekitar 6,76% hingga mencapai US$ 96,49 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar US$ 6,53 atau 7,79% ke posisi US$ 90,38 per barel. Kenaikan ini mencerminkan reaksi cepat pasar terhadap risiko gangguan pasokan akibat konflik yang memanas.

Ketidakpastian situasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas harga. Pernyataan dan kebijakan dari kedua negara tersebut terus berubah, memicu respons pasar yang fluktuatif.

BACA JUGA :  Penjualan Mobil Mei 2026: Toyota Masih Dominan, Geely Masuk 10 Besar dan BYD Tersingkir

Saul Kavonic dari MST Marquee, yang dikutip oleh Reuters, menyebutkan bahwa pergerakan harga minyak saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan informasi yang cepat dan tidak konsisten.

Situasi semakin rumit ketika Iran kembali menutup Selat Hormuz hanya beberapa jam setelah sempat dibuka.

Penutupan ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap langkah Amerika Serikat yang dinilai melanggar kesepakatan dengan tetap mempertahankan blokade laut terhadap kapal-kapal Iran.

Di lapangan, militer AS dilaporkan menyita kapal kargo Iran yang berusaha menembus blokade tersebut. Ketegangan pun meningkat setelah Iran menyatakan tidak akan melanjutkan pembicaraan damai. Bahkan, Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman terkait kemungkinan serangan udara lanjutan.

BACA JUGA :  Tekan Angka 45 Ribu Penganggur, Komisi IV DPRD Kota Bogor Kawal Pembukaan Job Fair 2026

Para pelaku industri pelayaran kini diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam melintasi Selat Hormuz. Kurangnya jaminan keamanan membuat jalur ini semakin berisiko, meskipun sebelumnya sempat dibuka kembali. Hal ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian di pasar energi global.

Data menunjukkan lebih dari 20 kapal sempat melintasi Selat Hormuz dalam satu hari, membawa berbagai komoditas seperti minyak, gas alam cair, logam, dan pupuk.

Jumlah ini menjadi yang tertinggi sejak awal Maret 2026, sekaligus menegaskan betapa vitalnya jalur tersebut bagi kelangsungan pasokan energi dunia.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================