BOGORTODAY.COM – Situasi di perbatasan selatan Lebanon kembali memanas meskipun kesepakatan gencatan senjata tengah berlangsung. Israel dilaporkan menginstruksikan pasukannya untuk tetap menjalankan operasi militer dengan kekuatan penuh guna menghadapi berbagai ancaman di wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa dirinya bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memerintahkan militer untuk bertindak tegas, baik melalui operasi darat maupun serangan udara. Langkah ini disebut sebagai upaya melindungi pasukan Israel dari potensi ancaman yang masih ada, termasuk dari kelompok Hizbullah.
Selain itu, militer Israel juga diperintahkan untuk menghancurkan bangunan atau infrastruktur yang dicurigai telah dipasangi bahan peledak. Rumah-rumah di desa perbatasan yang dianggap digunakan sebagai basis aktivitas Hizbullah pun menjadi target penghancuran.
Di tengah situasi yang belum stabil, sebagian warga yang sebelumnya mengungsi mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan Lebanon. Namun, tidak sedikit yang masih ragu terhadap keberlangsungan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar 10 hari sejak diberlakukan.
Di sejumlah wilayah seperti Dibbine dan Srifa, terlihat warga mulai meninjau kondisi rumah mereka yang rusak akibat konflik. Ada yang membersihkan puing-puing, sementara lainnya membawa kembali barang-barang kebutuhan rumah tangga. Di sisi lain, beberapa warga justru memilih meninggalkan wilayah tersebut setelah mengambil barang penting dari rumah mereka.
Menurut laporan National News Agency (NNA), pasukan Israel masih melakukan penghancuran bangunan di beberapa kota seperti Bint Jbeil. Wilayah ini sebelumnya menjadi lokasi pertempuran intens antara Israel dan Hizbullah sebelum gencatan senjata disepakati.
Aktivitas militer juga dilaporkan terjadi di daerah lain, termasuk Mais al-Jabal dan Deir Seryan, di mana terjadi operasi peledakan dan penyisiran. Sementara itu, kota Kunin disebut menjadi sasaran tembakan artileri.
Dalam perkembangan lain, militer Israel mengumumkan pembentukan “Garis Kuning” di Lebanon selatan. Zona ini disebut memiliki fungsi serupa dengan pembatas yang diterapkan di Gaza, yakni memisahkan wilayah yang berada di bawah kendali pasukan Israel dengan area yang dikuasai kelompok militan seperti Hamas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya meredakan konflik melalui gencatan senjata, situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Warga sipil pun menjadi pihak yang paling terdampak, dihadapkan pada pilihan sulit antara kembali ke rumah atau tetap mengungsi demi keselamatan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















