
BOGORTODAY.COM – Panjangnya rantai distribusi dari produsen hingga pengecer menjadi salah satu biang kerok kelangkaan minyak goreng bersubsidi Minyakita di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Bogor. Akibatnya, harga jual di tingkat pedagang melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bogor, Mely Kamelia, mengatakan kelangkaan ini juga diperparah oleh keterlambatan pengiriman dari produsen serta kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global.
“Kondisi ini dipicu oleh tersendatnya distribusi pada jalur pasok yang sama untuk wilayah Bogor Raya,” ujar Mely, Rabu (22/4/2026).
Pasar yang terdampak antara lain Pasar Cibinong, Cileungsi, Parung, dan Leuwiliang. Di pasar-pasar tersebut, stok minyak goreng dilaporkan cepat habis sehingga sejumlah pedagang menjual di atas ketentuan. Harga minyak goreng non-subsidi di tingkat pengecer berkisar Rp 17.000 hingga Rp 20.000 per liter, jauh melampaui HET Minyakita sebesar Rp 15.700 per liter.
Sebagai respons, Disdagin Kabupaten Bogor telah melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pasar. Disdagin juga akan berkoordinasi dengan Perum Bulog guna menambah pasokan minyak goreng, sekaligus menyiapkan operasi pasar murah di titik-titik rawan, termasuk di kawasan Pasar Cibinong.
Bagi HalamanEditor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















