
Program Dietplastik Indonesia ini bermula dari ikhtiar untuk memperbaiki kualitas udara melalui program FIREFLIES, yang merupakan inisiatif untuk mengatasi polusi dari pembakaran sampah rumah tangga.
Dimulai sejak Desember 2025, dengan pendekatan kepada warga selama sepekan terakhir, Dietplastik Indonesia telah membantu 150 rumah bersama para relawan untuk terus mengedukasi warga dalam memilah dan mengurangi sampah. Setiap rumah disediakan ember pemisah untuk sampah organik dan nonorganik, sehingga sampah tidak tercampur.
Penanggung jawab Program Dietplastik Indonesia, Farhan, mengatakan bahwa solusi untuk memperbaiki kualitas udara agar warga tidak membakar sampah adalah melalui pemilahan dari sumbernya.
“Artinya, sampah terpilah dari rumah-rumah, kemudian kita dorong agar setiap jenisnya dapat dikelola dengan cara tersendiri. Misalnya, sampah organik dikelola dengan maggot, biodigester, atau dijadikan kompos,” ujarnya.
Ia menambahkan, sampah nonorganik yang bernilai dapat disalurkan kepada petugas pemilah untuk memiliki nilai ekonomi. Dengan begitu, hanya sampah residu yang akan dibuang ke TPA oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” ujarnya.
Dalam program ini, pihaknya melakukan tiga riset, yakni riset antropologi sosial, bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Indonesia (UI), riset WACS untuk mengetahui komposisi sampah di RW 10, serta riset pemantauan kualitas udara.
“Kami membuat sensor untuk mendeteksi kualitas udara dan menangkap asap yang dihasilkan dari pembakaran. Alat ini masih dalam tahap kalibrasi dan akan segera dioperasikan,” ujarnya.
Editor : Aditya Nugraha
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















