
BOGORTODAY.COM – Penyebaran ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp) semakin meluas di sejumlah sungai dan situ di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Spesies invasif asal Amerika Selatan itu dinilai mengancam keseimbangan ekosistem perairan sekaligus kesehatan masyarakat yang mengonsumsinya.
Ketua Tim Pengawasan Perikanan Budidaya dan Perikanan Tangkap pada Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Bogor, Yayan Buduayana, mengatakan, penyebaran ikan tersebut terpantau meluas terutama di sungai-sungai yang tercemar.
“Penyebarannya sudah sangat luas. Di sungai-sungai yang tercemar, seperti di Cileungsi, ikan sapu-sapu justru banyak ditemukan,” ujar Yayan, Senin (27/4/2026).
Yayan menjelaskan, ikan sapu-sapu berasal dari kawasan Sungai Amazon, Amerika Selatan dan Brasil, dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan ikan hias. Diduga, sebagian ikan dilepas ke perairan umum hingga berkembang biak secara masif.
Minimnya predator alami di sungai-sungai Indonesia disebut menjadi salah satu faktor utama pesatnya perkembangbiakan spesies tersebut. Ikan sapu-sapu bersifat omnivora oportunistik memangsa hampir semua jenis pakan, mulai dari alga dan tumbuhan air hingga telur ikan lain, sehingga mengganggu rantai makanan di ekosistem perairan.
Tingkat reproduksinya pun tergolong tinggi. Seekor induk ikan sapu-sapu mampu menghasilkan ratusan telur, yang membuat populasi ikan lokal semakin terdesak baik dalam memperoleh pakan maupun dalam proses reproduksinya
Selain dampak ekologis, Yayan menegaskan bahwa ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi. Spesies ini memiliki kemampuan menyerap logam berat dari perairan tercemar, termasuk timbal, merkuri, kadmium, dan arsenik.
“Kalau dikonsumsi, logam berat itu bisa berpindah ke tubuh manusia. Jadi jelas tidak aman untuk dimakan,” tegasnya.
Diskanak Kabupaten Bogor kini mengintensifkan pengawasan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya ikan tersebut. Upaya pengawasan melibatkan kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) dari berbagai wilayah.
Yayan menegaskan, ikan sapu-sapu semestinya dimusnahkan, bukan dimanfaatkan untuk konsumsi.
“Masyarakat perlu diedukasi soal bahayanya,” tegasnya.
Bagi HalamanEditor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















